LENSAINDONESIA.COM: Tudingan politik dinasti membuat Gibran Rakabuming Raka gerah. Putra sulung Presiden Jokowi yang mengantongi rekomendasi PDIP sebagai Bakal Calon Walikota Solo ini meradang ketika publik mempertanyakan masalah etika terkait keputusan politiknya.

Dalam konteks pencalonan Gibran, sebenarnya memang tidak ada yang istimewa, kecuali pernyataannya sendiri. Pada 2018 lalu, setidaknya ia pernah menegaskan keengganannya masuk gelanggang politik karena merasa risih akan tudingan politik dinasti. Saat ini, ketika masuk arena politik, ia membantah sedang mempraktikkan politik dinasti. Ia berargumen mengikuti kontestasi, bukan penunjukan, dengan kemungkinan menang atau kalah.

Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusa’ Farchan mengatakan, “apapun argumentasi Gibran, sulit sekali untuk tidak mengatakan bahwa keputusan politik yang diambilnya merupakan bagian dari political kinship karena statusnya saat ini bersentuhan langsung dengan jantung kekuasaan negara,” ujarnya, Jakarta, Rabu (05/08/2020) .

Yusa’ menyarankan, akan lebih menarik jika Gibran mampu menggeser diskursus politik dinasti “tanpa ujung” tersebut ke dalam diskursus lain menyangkut kompetensinya sebagai calon kepala daerah. Ini penting untuk menjawab keraguan publik terhadap kelayakannya menjadi Walikota.

Gibran harus lebih sering tampil dengan style yang lebih ekspektatif berdasarkan program-program pembangunan daerah yang kreatif dan visioner.

“Mewakili zamannya, Gibran harus hadir melampaui batas-batas horizon yang ada untuk mengakselerasikan karakter transformational leadership dalam ranah politik. Gibran harus segera keluar dari bayang-bayang Presiden Jokowi dan menjadi dirinya sendiri,” ujar Yusa’.

Selama ini, Gibran terkenal sebagai pebisnis ulet. Bisnis kuliner pertama yang dibangunnya adalah katering Chili Pari di Surakarta. Katering ini ia bangun saat berusia 23 tahun. Selain katering, ia juga merambah bisnis lainnya. Beberapa produk bisnis populernya adalah Markobar, Pasta Buntel, Goola, Mangkok Ku dan sederet bisnis kuliner lainnya.

Kesuksesan Gibran sebagai enterpreneur setidaknya memang menjadi modal penting bagaimana membangun kota Surakarta secara lebih modern ke depan.

Terkait dengan pengalaman politik Gibran yang dibilang masih minim, Yusa’ menegaskan, pengalaman, jam terbang dan aktivisme politik yang rendah akan mudah dikonversi dan disubstitusikan dengan dukungan politik mayoritas di parlemen lokal yang akan memandu ritme berjalannya pemerintahan secara dinamis, bahkan tanpa hambatan.

Di era berkembangnya demokrasi digital saat ini, Presiden Jokowi telah menorehkan catatan emas bagaimana pengalaman dan jam terbang politik yang pendek saat menjadi Walikota bisa mengantarkannya menjadi Gubernur bahkan Presiden. Ia melesat tak terbendung, melampaui sekaligus mengalahkan rival-rival politiknya.@licom