LENSAINDONESIA.COM: Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan perkembangan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II/2020. Telah terjadi kontraksi terendah sejak tahun 1999 yang mana ekonomi minus 6,13%, namun belum masuk jurang resesi.

“Kalau kita melacak kembali kontraksi 5,35% ini terendah sejak triwulan pertama tahun 1999 ini, mengalami kontraksi minus 6,13%,” ujar Suhariyanto dalam video virtual, Rabu (5/8/2020).

Untuk itu, lanjut Suhariyanto, yang diperlukan saat ini oleh pemerintah adalah terus bergandengan tangan dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi di Kuartal III/2020.

Saling memperkuat merupakan hal penting saat ini agar Indonesia tidak masuk jurang resesi seperti yang dialami beberapa negara lainnya.

Sebagai informasi, resesi bisa terjadi jika pertumbuhan ekonomi negatif berturut selama dua kali.

“Saat ini pemerintah terus bergandeng tangan dalam memulihkan ekonomi di kuartal ketiga. Saya optimis Indonesia bisa pulih di kuartal ketiga dengan berbagai stimulus yang diberikan,” terang Suhariyanto.

Dijelaskanya, bahwa hampir semua daerah di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi. Diantaranya pulau Jawa dan Sumatera yang menyumbang pertumbuhan ekonmi yang negatif.

“Jawa dan Sumatera memberikan kontribusi terbesar ekonomi yang mana semuanya minus di seluruh pulau, Jawa yang paling tinggi minusnya yang mencapai 6,69%,” pungkasnya.@licom