LENSAINDONESIA.COM: Sidang Raya Sinode Gereja Happy Family Center 2020 digelar di Hotel Luminor Surabaya, Selasa (11/08/2020).

Kepala Bidang Hukum, Bimas Kristen Jakarta Johnson Parulian menegaskan, Sidang Raya berdasarkan permohonan dari jemaat ini sudah mendapatkan rekomendasi dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Kristen Kementerian Agama RI.

Peryataan Johnson Parulian ini menepis pernyataan-pernyataan sebelumnya yang menyebut bahwa Sidang Raya Sinode Gereja Happy Family Center 2020 tidak lazim, bahkan menyalahi AD-ART.

“Sidang luar biasa ini sudah mendapatkan rekomendasi dari Pak Dirjen. Prinsipnya kita mendukung setiap upaya-upaya yang dilakukan agar Sinode Gereja ini lebih baik dan lebih teratur. Pak Direktur juga mengamanatkan perdamain bagi semua orang, melalui cara-cara komunikasi dengan semua pihak,” ungkap Johnson di Hotel Luminor, Surabaya, Selasa (11/08/2020).

Menurut Johnson Parulian, Sidang Luar Biasa ini juga bertujuan membangun kembali komunikas yang sejauh ini belum lancar diantara jemaat Gereja HFC.

“Informasi yang kami dapatkan, sejauh ini sudah ada beberapa kali permintaan untuk komunikasi, namun kelihatannya komunikasi itu belum lancar. Sebagai Bimas Kristen, kami tidak akan berhenti mengupayakan komunikasi diantara mereka,” jelasnya.

Karena itu, Johnson Parulian enggan berkomentar, soal pernyataan Ketua Umum Majelis Sinode Pekerja Gereja HFC Pendeta Dr. Erika Damayanti yang sebelumnya mengatakan bahwa dirinya terpilih secara kuorum sebagai Ketua Umum Sinode Pekerja Gereja HFC untuk periode 2020-2025 pada 9 Agustus 2020.

“Wah kalau itu saya tidak bisa berkomentar, sebab sampai hari ini kami belum menerima. Biasanya kalau ada sidang-sidang para pihak melaporkannya ke Dirjen Bimas Kristen, kalau ada perubahan AD-ART, kalau ada perubahan kepengurusan. Tapi sampai hari ini kami belum menerima laporan,” pungkasnya.

Sementara Sutrisno Sukmana, Sekertaris Umum (Sekum) Sinode Gereja HFC justru balik bertanya kenapa HFC sejak tahun 2011 hingga 2020 belum pernah diadakan Sidang Raya sama sekali. Apalagi pasca pendeta HL sebagai Ketum Sinode Gereja HFC terjerat kasus dugaan pencabulan dan sekarang sedang menjalani proses hukum.

“Jadi Sidang Raya Sinode 2020 ini adalah jawaban dari pejabat-pejabat sinode, cabang- cabang dari Gereja HFC, yang menanyakan status dan kejelasan dari Gereja ini,” ujar Sutrisno.@LI-13