LENSAINDONESIA.COM: Internal sinode pekerja Gereja Happy Family Center (HFC) Jl Embong Sawo, Surabaya, memanas. Penyebabnya, muncul ‘panitia’ yang bakal menggelar Sidang Raya Sinode.

Rencananya, sidang Gereja Happy Family Center 2020 itu akan dihelat di Hotel Luminor lantai 5 Jl Jemursari 206-208 Surabaya, Selasa (11/8/2020).

Ketua Umum Majelis Sinode Pekerja Gereja Happy Family Center Surabaya, Pendeta Erika Damayanti didampingi sekretaris, bendahara dan sejumlah pengurus memprotes.

Erika Damayanti menjelaskan agenda sidang raya itu menyalahi Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) Gereja HFC. Dia bahkan menyebut tidak kenal ketua panitianya.

“Saya tidak kenal mereka. Mungkin mereka itu yang tidak aktif atau udah mengundurkan diri sejak Januari lalu” kata Erika Damayanti, Senin (10/8/2020) malam.

Tak hanya itu saja, Erika Damayanti, menyebut sidang raya tersebut tidak sesuai AD-ART bahkan tidak lazim untuk ukuran sebuah sidang raya.

“Saya tidak berani mengatakan itu ilegal, tapi itu tidak lazim. Namanya sidang raya maka sesuai AD-ART yang mengundang pasti ketua umum atau wakil ketua umum dan sekretaris. Dan undangan sidang raya itu ditandatangani mereka,” sambungnya.

Erika Damayanti menuturkan, sinode pekerja Gereja HFC sebelumnya sudah menggelar sidang raya pada 9 Agustus 2020. Di situ, diputuskan bahwa dirinya dipilih sebagai ketua umum sinode pekerja Gereja HFC untuk periode 2020-2025.

“Sidang raya itu diadakan tanggal 9 Agustus 2020 kemarin. Waktu itu, kami memiliki lima kandidat. Akhirnya saya dipilih secara quorum menjadi ketua umum,” tuturnya.

Keputusan itu, sambung Erika Damayanti juga sudah diberitahukan ke Dirjen Bimas Kristen, ke Bimas Kristen Jawa Timur, ke Linmas Propinsi Jawa Timur, ke Aras nasional yakni PGPI Jakarta dan Propinsi Jawa Timur.

“Kami sudah kirimkan pemberitahuan bahwa sudah terbentuk kepengurusan yang baru,” sambungnya.

Terkait adanya ‘kubu’ lain dalam sinode pekerja Gereja HFC yang akan menggelar sidang raya Selasa nanti, Erika Damayanti mengaku memikirkam langkah hukum.

“Kami berpijak hanya satu, urusan rohani ya rohani, yang jujur da  tidak pakai cara duniawi, yang jujur. Organiasi ini untuk mengembangkan supaya spritual manusia menjadi lebih baik. Tapi kalau sudah pakai cara duniawi, saya berpikir lebih baik kita berkarya menjalankan amanat Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik,” pungkas Pendeta Erika Damayanti. @rofik