LENSAINDONESIA.COM: Di masa pandemi saat ini, sektor pendidikan salahsatu jadi terdampak pada proses pembelajaran.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pun meminta untuk ke depan agar unit pendidikan terbiasa melakukan sistem buka tutup pada masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Hal ini dilakukan agar siswa bisa melakukan pendidikan jarak jauh (PJJ) secara optimal.

“Pada masa adaptasi kebiasaan baru, kita sebagai sistem pendidikan harus bisa belajar untuk buka tutup sekolah,” ujar Menteri Nadiem Makarim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/8).

“Kalau tidak, kita tidak memberikan kesempatan pada anak untuk belajar karena tidak seluruhnya melakukan pendidikan jarak jauh (PJJ) secara optimal,” sambung Nadiem

Mendikbud ini menjelaskan, bahwa di negara lain, hal ini pun serupa diterapkan. Untuk pembukaan sekolah tidak dipukul rata, tetapi disesuaikan dengan kondisi daerah itu.

Nadiem pun menegaskan, agar melakukan relaksasi pembukaan sekolah untuk zona kuning dan hijau. Pembukaan sekolah boleh dilakukan dengan persyaratan disetujui pemerintah daerah, kepala sekolah, komite sekolah, dan orang tua peserta didik.

Namun, jika terdapat orang tua tidak setuju maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa. Jika daerah di sekolah itu berubah status dari kuning ke oranye maka sekolah harus kembali ditutup.

Selain itu, jika terdapat peserta didik atau guru terinfeksi Covid-19, maka sekolah pun harus kembali ditutup hingga keadaan menjadi aman kembali. Dia menambahkan sebanyak 88 persen dari keseluruhan daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) berada di zona kuning dan hijau.

Sementara, lanjut Nadiem, banyak satuan di daerah 3T yang kesulitan melaksanakan pendidikan jarak jauh dikarenakan minimnya akses. Hal itu berdampak pada tumbuh kembang dan psikososial anak secara permanen.

Nadiem mengatakan, bahwa pembelajaran tatap muka dilakukan secara bertahap dengan syarat 30 persen hingga 50 persen dari standar peserta didik per kelas. Standar awal 28 hingga 36 peserta didik per kelas, kemudian dibatasi menjadi 18 peserta didik untuk jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK.

Kemudian, untuk sekolah luar biasa yang awalnya lima hingga delapan peserta didik per kelas, menjadi hanya lima peserta didik per kelas. Selanjutnya, untuk jenjang PAUD standar awal 15 peserta didik per kelas menjadi lima peserta didik per kelas.

Begitu juga untuk jumlah hari dan jam belajar juga akan dikurangi, dengan sistem bergiliran rombongan belajar yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan situasi dan kebutuhan.

“Sekolah harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Jarak antarpeserta didik 1,5 meter, tidak ada aktivitas kantin, tempat bermain, maupun aktivitas olahraga,” terangnya.@licom