LENSAINDONESIA.COM: Sekolah Kajian Stratejik Global Universitas Indonesia (SKSG UI) melalui Kajian Ilmu Kepolisian menggelar diskusi ilmiah secara daring pada Rabu (12/8) bertajuk “Science of Cyber Crime Perspective in New Normal Era”.

Kegiatan ini terselenggara atas fenomena pandemi COVID-19 yang semakin mempertegas pentingnya sistem digitalisasi dalam mendukung upaya physical distancing sebagai cara hidup baru di era digital (New Normal).

Meningkatnya digitalisasi di kehidupan manusia dapat memunculkan permasalahan dan kriminalitas dalam dunia siber yang membawa konsekuensi pula terhadap sistem keamanan global dan nasional.

Diskusi ilmiah ini diisi oleh para narasumber yaitu: Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi; Prof. Dr. Tb. Ronny R. Nitibaskara (Guru Besar UI); Dr. Suryadi, M.T. (Pakar Kriptografi dan IT UI & Dosen KIK UI).

Selanjutnya, Dr. Puspitasari (Dosen SKSG UI); Muhammad Erza Aminanto, Ph.D (Dosen KIK UI) dengan moderator Wakil Direktur SKSG UI Abdul Muta’ali, Ph.D. Wakil Kepala Kepolisian Negara RI Komisaris Jenderal Gatot Eddy Pramono hadir menyampaikan pidato kunci di dalam kegiatan tersebut.

Dalam pidato kuncinya, Wakapolri menyampaikan paparan bertajuk “Cyber Crime sebagai Fenomena Sosial”.

Ia menuturkan, kejahatan siber atau cyber crime dilakukan dengan menggunakan media internet, salah satunya pun bisa melalui media sosial. Kini, ujaran kebencian, hoax dapat memanfaatkan media sosial. Media sosial dapat menjadi lebih rawan karena setiap orang bisa jadi reporter, penulis, koordinator liputan, editor, redaktur hingga Pemred.

“Sehingga kejahatan melalui media sosial dapat menjadi senjata ampuh untuk menggerakkan massa. Cybercrime science tidak semata dominan terkait informasi dan teknologi, melainkan juga bagaimana kejahatan siber itu muncul dalam diri individu atau kelompok,” ujar Jenderal Gatot Eddy Pramono.

“Upaya pencegahan agar tidak terjadi praktik kejahatan siber, metode dan disiplin ilmu manapun sangat diperlukan agar mampu mencegahnya. Maka, diharapkan melalui webinar ini, dapat dihasilkan masukan, cara, kajian baru untuk mengantisipasi cyber crime. Jangan kita biarkan mengganggu keutuhan NKRI,” sambungnya.

Direktur SKSG UI Athor Subroto, S.E., M.M., M.Sc., Ph.D. menuturkan, cyber crime menjadi salah satu fokus permasalahan seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi. Sampai saat ini, SKSG UI khususnya melalui Kajian Ilmu Kepolisian SKSG UI mengembangkan ilmu keamanan siber oleh para pakar, baik dalam perspektif interdisiplin, intradisiplin maupun multidisiplin yang ada di UI.

“Diharapkan diskusi ilmiah ini mampu membuka wawasan ilmiah mengenai perkembangan tren, pola, bentuk dan perilaku kejahatan siber, bagaimana strategi pencegahan dan penanganan keamanan siber di era New Normal,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam paparannya, Direktur Tindak Pidana Siber Brigjen Pol Slamet mengutarakan, delapan aspek digital yang penting untuk diketahui masyarakat, yaitu digital identity (mampu memilah identitas yang boleh dibagikan), digital used (menyeimbangkan penggunaan waktu berdigital), digital safety (mampu mendeteksi konten berisiko).

Kemudian, digital security (mampu mendeteksi ancaman siber dan melindungi akun dan gawai), digital emotional (mampu berempati dan berhubungan baik secara online), digital communication (mampu berkomunikasi dan berkolaborasi), digital literacy (memahami cara peroleh dan menyaring info), dan digital rights (menghormati hak cipta orang lain),” jelasnya.

Dalam diskusi ilmiah, Dr. Puspitasari mengutarakan, cyber crime dilihat dari perspektif multidisiplin. Narasi yang terbangun di masa pandemi saat ini diantaranya isu kesenjangan sosial, penguasaan sumber daya, keberpihakan pemerintah pada kelompok tertentu dan isu COVID-19 sebagai konspirasi. Berkenaan dengan narasi yang telah mengarah kepada cyber crime tersebut, maka perlu dibangun kesadaran publik.

“Literasi media dan digital menjadi sangat penting saat ini. Program tersebut dapat dilakukan dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan dan pemuka masyarakat (contoh: NU – Muhammadiyah),” paparnya.

Berikutnya, Akademisi UI, Dr. Suryadi menyampaikan, sebagaian dari kita menilai bahwa data hanya pelengkap. Padahal data adalah aset. Maka dari itu, penting adanya perubahan paradigma bahwa data merupakan sumber daya utama dan aset yang berharga.

“Data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita. Untuk mencegah kejahatan siber, perlu dilakukan peningkatan kapabilitas SDM di dalam mengelola keamanan berkomputer dan berinternet. Perlu dilakukan penerapan konsep CIA (Kerahasiaan, Keutuhan, Ketersediaan) akan data. Dengan solusi membangun People, Process, Technology. Kedaulatan data harus diwujudkan, hak warga negara atas data pribadi harus dilindungi,” ujar Dr Suryadi.

Menutup diskusi, Muhammad Erza Aminanto, Ph.D, Dosen KIK UI memaparkan secara mendalam terkait sistem yang dibangunnya untuk mendeteksi serangan cyber crime. Artificial Intelligence dapat dimanfaatkan dengan optimal untuk mengklasifikasi, visualisasi dan mendeteksi serangan cyber crime.@licom