LENSAINDONESIA.COM: Komnas Perlindungan Anak tajam menyoroti kasus hukum pendeta Hanny Layantara, yang melakukan pencabulan terhadap anak-anak sejak korban berusia 12 tahun

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, saat berkunjung ke Surabaya menyatakan, perbuatan Pendeta Hanny Layantara, merupakan extra ordinary crime (kejahatan luar biasa).

“Kami berharap Jaksa menuntut HL dengan tuntutan pasal 82 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,” terang Arist Merdeka Sirait, saat jumpa pers di salah satu cafe di Jl Prapen, Surabaya, Selasa (12/8/2020).

Arist juga berharap dalam tuntutannya, Jaksa menyertakan pasal nomor 17 tahun 2016, dimana hukuman pokoknya 20 tahun penjara

Selain hukuman maksimal, Arist Merdeka Sirait juga berharap agar Jaksa dan Hakim juga menjatuhkan hukuman tambahan kebiri, mengingat Pendeta Hanny Layantara, melakukan perbuatannya secara sadar dan berulang terhadap korban sejak berusia 12 tahun.

“Seharusnya HL mendapat hukuman setimpal. Selain hukuman badan seumur hidup, hukuman kebiri kimia juga bisa diterapkan kepadanya. Dia sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul,” tambahnya.

Arist Merdeka Sirait menambahkan lebih lanjut, perbuatan Pendeta Hanny Layantara merupakan kejahatan sangat tidak manuasiawi, sebagai predator anak dengan mengatasnamakan agama.

“Dengan mengatasnamakan agama dan menganggap sebagai anak Rohani, dilembaga atau agama apapun ini sangat dilarang. HL ini telah melakukan
extra ordinary crime, sebagai predator anak,” paparnya lebih lanjut.

Disinggung bila Jaksa dan Hakim menjatuhkan hukuman tidak setimpal dengan perbuatannya yang dilakukan hingga bertahun tahun, Arist Merdeka Sirait menegaskan akan melakukan banding.

“Kami akan melakukan banding. Perbuatan yang dilakukan HL, harus mendapat hukuman secara setimpal. Apalagi dilakukan terhadap anak di bawah umur hingga bertahun-tahun. Akibatnya korban hingga saat ini mengalami trauma dan perlu pendampingan khusus,” pungkasnya.

Diketahui, proses persidangan kasus dugaan pencabulan dengan terdakwa pendeta HL masih terus berlanjut.

Hingga saat ini, persidangan kasus pendeta HL yang diselenggarakan di PN Surabaya ini masih dalam agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi. @rofik