LENSAINDONESIA.COM: Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengundurkan diri dari jabatannya.

Abe memutuskan mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Penyekit kolitis ulseratif yang dideritanya sejak remaja saat ini menjadi semakin kronis.

Dalam pengumumannya, PM Abe menyatakan penyakit yang diidapnya sejak lama ini kembali menunjukkan gejala yang parah.

“Saya memutuskan untuk mundur dari jabatan perdana menteri. Keputusan ini diambil karena saya ingin menghindari masalah pada pemerintah karena kondisi kesehatan kronis yang memburuk. Terlebih lagi saat ini pandemi COVID-19 dan kita masih berupaya memberantasnya,” ujar Abe dalam siaran televisi NHK, Jumat (28/08/2020).

Dalam dua pekan terakhir, Abe memang kerap ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Pekan lalu, perdana menteri terlama Jepang itu diperiksa hingga tujuh jam.

Namun, pemerintah Jepang mengatakan situasi seputar pemeriksaan medis PM Abe bukan hal yang patut dikhawatirkan. Mereka mengatakan Abe hanya menjalani pemeriksaan rutin.

Abe, PM dengan masa jabatan terlama di Jepang, telah berkuasa sejak 2012. Ia mengundurkan diri dari periode pertama kepemimpinannya pada 2007 karena mengidap penyakit ulcerative colitis. Ia menekan penyakitnya itu dengan obatan-obatan terkini, yang sebelumnya tidak tersedia di Jepang.

Abe pertama kali menjadi perdana menteri pada 2006 pada usia 52 – termuda di Jepang pasca perang. Tetapi dia mundur setelah sekitar satu tahun karena dia mulai menderita gejala yang parah.

Abe kembali pada Desember 2012 dan memimpin pemerintahan keduanya. Kondisinya tampaknya stabil, berkat pengobatan baru yang menekan peradangan. Masa jabatan Abe mencapai tujuh tahun delapan bulan.

Namun sumber mengatakan kelainan ditemukan saat Abe menjalani pemeriksaan pada Juni lalu. Mereka mengatakan tes di Rumah Sakit Universitas Keio pada 17 Agustus menemukan bahwa kondisinya memburuk.

Sumber tersebut mengatakan pemeriksaan lanjutan satu minggu kemudian menunjukkan bahwa gejalanya mereda dengan penggunaan obat. Tetapi dokter mengatakan Abe perlu melanjutkan pengobatan selama tahun mendatang.

Perdana menteri diyakini telah berpikir bahwa dia tidak boleh membiarkan kondisi fisiknya mengaburkan penilaian politiknya, dan memutuskan akan sulit baginya untuk tetap di jabatannya.@LI-13