LENSAINDONESIA.COM: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan wilayah DKI Jakarta saat ini dalam kondisi darurat Covid-19. Masyarakat di wilayah Jakarta diminta siap-siap untuk mematuhi akan diberlakukannya kembali PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti awal pandemic Covid 19, mulai Senin, 14 September 2020.

“Dalam rapat Gugus Tugas Pengendalian Covid 19 sore tadi, kita terpaksa kembali menerapkan PSBB seperti awal dulu. Bukan lagi PSBB masa transisi, namun PSBB seperti awal,” kata Gubernur Anies Baswedan dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual dari Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (9/9/2020) Pukul 19.35 WIB.

“Sekali lagi ini, ini demi menyelamatkan warga Jakarta, bila dibiarkan rumah sakit tidak sanggup menampung,” imbuh Anies.
Anies menegaskan, Pemprov DKI akan kembali memberlakukan penerapan bekerja dari rumah, belajar di rumah, termasuk tempat-tempat beribadah. Bahkan, tempat hiburan tidak diijinkan beroperasi, restoran hanya diperbolehkan melayani pembeli untuk dibawa pulang dan tidak diijinkan melayani makan di tempat.

“Kita akan menerapkan bekerja dari rumah, belajar di rumah, secara garis besar, kita akan menuju PSBB. Ada fase untuk ancang-ancang menjalankan PSBB dengan baik, mulai Senin 14 September mendatang,” kata Anies. Pasalnya, kondisi berkumpul yang tidak disiplin itulah berakibat penyebaran virus sulit dikendalikan.

Pemberlakukan kembali PSBB ini, karena tren peningkatan kasus posistif Covid 19 sejak Agustus 2020 sangat mengkhawatirkan. Jika tidak dilakukan langkah pengeremah, dipastikan kapasitas rumah sakit rujukan di wilayah DKI Jakarta tidak akan mampu menampung.

“Ini demi menyelamatkan warga Jakarta. Bila dibiarkan ketersediaan tempat tidur isolasi di rumah sakit dan ICU penanganan Covid 19 tidak akan menampung,” tegas Anies.

Menurut Anies, saat masih dilakukan PSBB mampu menekan angka penurunan kasus sangat signifikan. Namun, sesudah Agustus angka kematian meningkat kembali. Secara prosentase, angka kematian akibat Covid 19 di DKI Jakarta lebih rendah dibanding tingkat kematian secara nasional.

“Sampai saat ini, ada 1.347 saudara kita di Jakarta yang wafat akibat covid 19.. Sesungguhnya tingkat angka kematian Covid 19 di Jakarta memang rendah , 2,7 %. Lebih rendah dari nasional 4,1%, lebih rendah dari global 3,3%,” jelasnya.

Data kasus Covid 19 di Jakarta per 9 September, secara kumulatif mencapai angka 49.837 kasus.

“Setiap satu kematian bukan statistik saja, namun nyawa saudara kita yang harus diselamatkan,” kata Anies.

Pemprov DKI mewaspadai kasus aktif yang kini sedang ditangani karena terkait kapasitas rumah sakit di Jakarta. Ada 3 kelompok kasus aktif, yaitu ringan, sedang dan berat. Kasus sedang dan berat membutuhkan rumah sakit. 50 persen tanpa gejala, 35 persen bergejala sedang atau berat.

Di Jakarta, ada 190 rumah sakit, dan 67 rumah sakit diantaranya rumah sakit rujukan. Populasi kasus sangat tinggi, dan ambang batas melampaui kasus yang ada.

Saat ini Jakarta memliki 4.053 tempat tidur isolasi Covid 19. Jumlah ini, 70 persen sudah terpakai.
“Bila situasi berjalan terus tidak ada pengereman. maka 14 September akan penuh,” jelasnya.
Pemprov DKI Jakarta akan terus berupaya menambah rumah sakit swasta. Diupayakan akan meningkatkan 20% tempat tidur isolasi, sehingga jadi 4800-an. Upaya penambahan ini, kata Anies, akan tetap tidak bisa menampung jika tidak ada pengereman.
“Situasi wabah di Jakarta, dalam kondisi darurat. Presiden meletakkan kesehatan menjadi prioritas pertama,” kata Anies. @jrk-LI