LENSAINDONESIA.COM: Generasi milenial, selain lahir pada fase, pengelompokan usia tertentu dan memiliki karakteristik pada era belakangan ini, mereka juga didukung oleh perkembangan digital yang begitu pesat dimasa saat ini.

Generasi ini memiliki karakteristik, diantaranya yakni kreatif, lebih menyukai tantangan baru, kepercayaan diri atau confidence, conected, suka berorientasi pada prestasi, echievement-nya tinggi, berpendidikan dan berpengetahuan, tangkas dan mampu bekerja secara tim, serta inovatif.

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Golkar, Zulfikar Arse Sadikin menilai, bahwa selain generasi milenial yang memiliki ciri dan karakteristiknya, mereka juga harus mempunyai sikap mental untuk dapat menerapkan nilai-nilai dalam dunia sosial politik dalam memperbaiki kehidupan.

Demikian disampaikannya dalam diskusi atau Webinar bertajuk: “2024: Panggung politik millennials?, yang digelar oleh CITRA INSTITUTE pada Jum’at (11/9/2020).

“Dalam konteks sosial politik, menurut saya kalau memang ke depan generasi milenial ingin punya panggung politik, benar-benar bisa menentukan arah politik kita ke depan, maka selain memiliki karakternya, maka perlu ditambah dengan sebuah sikap mental,” ujar Zulfikar.

Sikap mental tersebut, menurut Zulfikar yang terpilih di Dapil III Jatim (Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo) adalah, Pertama, harus punya Kepekaan. Generasi milenial dengan karakternya ini mau diapakan dan untuk apa di dalam konteks sosial politik.

Kedua, yakni Kepedulian. Generasi ini harus mempunyai kepedulian, sehingga karakter tersebut dapat ditunjukan dengan kepedulian. Dan, Ketiga, yaitu Keberpihakan. Mereka perlu menunjukan keperpihakan sebagai langkah nyata pada rana sosial politik.

“Menurut saya tanpa ini semua sulit untuk merebut panggung politik. Mengapa? Karena politik adalah cara pendistribusian dan alokasi nilai nilai. Setidaknya ada 8 nilai yang dikelola dalam politik yakni kekuasaan, pendidikan, kekayaan kesehatan, ketrampilan, kasih sayang, kejujuran, keadilan, keseganan, respek,” terang alumni Universitas Gaja Mada ini.

“Untuk mendistribusikan ini tidak cukup dengan hanya punya karakter saja, namun juga harus didukung dengan sikap mental yang saya sebutkan tadi. Tanpa itu kita tidak bisa memberi makna dalam dunia kehidupan ini,” tegas Zulfikar menambahkan.

Dia berharap, ke depan para geberasi milenial harus mempunyai sikap mental tersebut dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut.

“Agar tidak hanya dikuasai segelintir orang dan tidak diperuntukan bagi orang orang segelintir saja,” tuturnya.

Apalagi, kata Zulfikar yang juga Ketua Bidang Organisasi DPP Partai Golkar Periode 2019-2024 ini, bahwa di dalam UUD 45 secara tegas menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama didalam pemerintahan.

“Di UU HAM pun demikian, maka penting untuk tidak terjebak pada glorifikasi pada generasi tertentu, memandang sosok calon dan lingkarannya dia adalah hal yang penting untuk menjalankan roda pemerintahan dengan baik,” paparnya.

“Jangan sampai, kita dengan gegap gempita mengunggulkan calon milenial hanya karena karakteristik yang diglorifikasi apalagi hanya memandang mereka hanya cakap teknologi belaka, karena permasalahan bangsa tidak hanya bertumbuh pada digitalisasi dan narasi narasi sempit serupa,” jelasnya menambahkan.

Dia berpesan, bahwa penting bagi kita semua untuk menengok kembali personal calon terkait apa yang telah dia lakukan dan apa yang dia akan lakukan jika pada akhirnya dia terpilih.

Hadir sebagai narasumber diantaranya Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Golkar, Zulfikar Arse Sadikin, Juru Bicara PSI, M Guntur Romli,Pengamat Komunikasi Politik Eks Presenter TV One, Ike Suharjo, Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusa’ Farchan, Aktivis Milenial (Alumni UI), Rana Baswedan, dengan dipandu moderador Hasrul Harahap, dan diikuti oleh para peserta generasi milenial dari berbagai daerah.@licom