LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur memilih menetapakan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) dari pada Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) yang diterapkan Provinsi DKI Jakarta untuk menekan meningkatnya persebaran COVID-19.

PSBM atau mikro lockdown ini tidak melakukan penutupan secarra total, tapi hanya akan mengunci pintu keluar masuk desa atau wilayah yang terpapar COVID-19 selama 14 hari dan dilakukan testing secara masif.

Menurut Khofifah, penerapan PSBM hasilnya jauh lebih efektif untuk menekan resiko penularan COVID-19. hal ini dilihat dari penerapan PSBM di Magetan khususnya di area Pesantren Temboro yang sudah tidak ada penambahan kasus baru di area tersebut hingga hari ini.

“Alhamdulillah di Jatim intervensi Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) terbukti lebih efektif untuk menekan penyebaran virus COVID-19. Efektivitas PSBM terbukti karena sampai hari ini sudah tidak ada penyebaran kasus COVID-19 baru dari area tersebut,” ujar Khofifah pada peresmian RSUD Srengat, Blitar, Sabtu (12/09/2020).

Dikutip Tim Lingkar Madiun dari Diskominfo Jatim, Khofifah menyebutkan jika PSBM dinillai jauh lebih ampuh diterapkan di Jawa Timur, mengingat banyaknya jumlah kampung tangguh yang dinilai sewaktu-waktu bisa siap menarik rem darurat jika ditemukan kasus baru di wilayahnya.

“Jawa Timur saat telah memiliki 2.605 Kampung Tangguh. Ini merupakan salah satu social capital yang memungkinkan format PSBM dilakukan secara gotong royong dengan skala terkecil yang lebih efektif dan tertarget,” terang Khofifah.@LI-13