LENSAINDONESIA.COM: Tingkat hunian (okupansi) hotel hingga masih belum pulih.

Diantaranya, Grand Tunjungan Hotel Surabaya kali ini lebih mengangkat layanan Food & Baverage guna mendongkrak incomenya.

Fajar Subeni, General Manager Grand Tunjungan Hotel Surabaya kini menawarkan konsep “Angkringan” sebab konsumen Surabaya dan sekitarnya identik dengan budaya nongkrong, ngobrol sambil ngopi, ngeteh atau makan kudapan.

“Angkringan kali ini hanya kami buka Jumat malam dan Sabtu malam dengan membidik market family, komunitas serta anak muda. Awalnya target kita komunitas pesepeda, lama-lama yang semakin malam yang datang di luar komunitas itu,” tutur Benny kepada Lensaindonesia.com, Sabtu (19/20/2020).

Beni menambahkan, angkringan yang diberi nama Cofte itu mampu menarik perhatian. Terbukti di hari Jumat, angkringan yang dibuat di halaman parkir Grand Tunjungan Hotel ini dikunjungi sekitar 250 hingga 300-an orang. Jumlah ini bakal naik dua kali lipat saat malam Minggu.

“Sebab harga di tempat kami ini relatif murah untuk ukuran pasar Surabaya. Bawa uang Rp 20 ribu sudah bisa makan sego kucing, aneka sate dan minuman,” tuturnya.

Untuk itu, kreatifitas maupun diversifikasi usaha harus dilakukan agar divisi layanan makanan dan minuman itu mampu mendongkrak omset.

“Kami mengakalinya dengan membuat angkringan saat weekend,” ucap Benny.

Saat kondisi normal, divisi FNB berkontribusi lebih kecil jika dibandingkan dengan layanan kamar.

“Kontribusinya antara 30-40 persen terhadap pendapatan hotel. Sedangkan kontribusi jasa sewa kamar mampu hingga “60-70 persen,” jelasnya.

Namun, saat memasuki pandemi Covid-19 saat Maret lalu, kontribusi kamar tergerus hingga tersisa 30-40 persen saja.

“Saat ini, usai sekitar lima bulan berjalannya pandemi, kontribusi FNB justru yang melonjak hingga mencapai 60-70 persen,” pungkas Beny.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia mencatat, hingga pertengahan Juli, okupansi hotel di Surabaya masih di angka 15 persen. Angka ini tergolong lebih baik jika dibanding okupansi hotel di Makassar yang hanya 8 persen, Jogjakarta (10 persen), Medan (10 persen), Batam (10 persen), dan Bali (1 persen).@Eld-Licom