LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendukung upaya pemerintah daerah untuk menambah fasilitas kesehatan bagi warganya. Seperti di RSUD Srengat Kabupaten Blitar yang baru saja diresmikan, Sabtu (12/09/2020).

Khofifah menilai RSUD Srengat sudah mengantisipasi kebutuhan kesehatan untuk masa depan. Meski rumah sakit tersebut masih dalam kategori tipe C namun fasilitasnya sudah cukup banyak termasuk sudah dipersiapkan adanya laboratorium PCR.

“Laboratorium PCR ini juga sangat setretegis, di RSUD ini juga sudah disiapkan Lab PCR. Sekarang WHO sudah tidak menggunakan rapid tapi menggunakan PCR. Sekarang sudah ada 54 dan masih butuh tambahan lagi supaya kecepatan swab test segera diketahui hasilnya. Oleh karena itu RSUD Srengat ini sudah mengantisipasi kebutuhan masa depan,” kata orang nomor satu di Jatim ini.

Khofifah menambahkan bahwa keberadaan laboratorium PCR tidak hanya untuk penanganan dan pelayanan COVID-19 saja, namun juga bisa digunakan untuk penyakit lain yang invensius dan penyakit menular. Salah satunya adalah penyakit Tuberculosis (TB). Dimana, jumlah penderita penyakit ini menjadikan Indonesia ada di posisi ketiga dunia penyakit TB terbanyak. Dan mirisnya angka tertinggi ditempati oleh Provinsi Jatim.

Sementara terkait dengan penanganan COVID-19, Khofifah mengatakan saat ini menjaga kualitas pelayanan kesehatan menjadi warning dari pemerintah pusat.

“Tadi saya ditelpon Pak Menteri BUMN sebagai ketua Satgas COVID-19. Beliau ingin memastikan apa yang kemarin kami sampaikan, bahwa total bad RIK (Ruang Isolasi Khusus) ada 6611, bad ICU ada 860. Tingkat penggunaanya, okupansinya itu 44-49%. Sedangkan beberapa provinsi lainnya sudah overload,” ungkap mantan Mensos ini.

Ditambahkan Bupati Blitar Rijanto, pembangunan RSUD Srengat ini dimulai antara tahun 2013-2014 lalu.

Dia menceritakan bahwa hampir satu dasawarsa yang lalu, Blitar bagian barat yaitu Kecamatan Udanawu, Wonodadi, Srengat dan Sanankulon merasa bahwa akses mereka terhadap fasilitas kesehatan tidak baik, karena jarak RSUD Ngudi Waluyo Wlingi cukup jauh lebih dekat jaraknya ke RSUD dr. Iskak Tulungagung, dan RSUD Gambiran.

Dengan adanya tuntutan dari warga itu akhirnya dilakukan upaya untuk membangun RSUD Srengat ini dengan tipe C. Bupati Rijanto juga secara khusus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak baik langsung maupun tidak langsung yang memiliki kontribusi terealisasinya pembangunan dan operasional RS tersebut.

RSUD Srengat Blitar memiliki kapasitas 120 tempat tidur yang dibangun dengan menghabiska anggaran sebesar Rp 147 miliar. RSUD Srengat terdiri dari beberapa bagian pertama gedung utama 4 lantai terdiri dari ruang poliklinik umum, ruang farmasi, ruang laboratorium, ruang radiologi, rang manajemen maternal prenatal, serta ruangan lainnya.

RS ini juga dilengkapi dengan gedung penunjang 2 lantai. Di gedung ini terdiri dari beberapa tempat pelayanan diantarnaya pelayanan gizi, pelayanan laundry, kamar jenazah, ruang isolasi tekanan negatif kapasitas 8 tempat tidur. Kemudian ada juga fasilitas lainnya seperti asrama perawat rumah sakit, dokter spesialis dan masjid.

“Kami juga sudah menyelesaikan ruang laboratorium yang sudah dilengkapi dengan mesin PCR yang rencananya akan dilakukan visitasi dari Dinkes provinsi. Nanti tanggal 17 september 2020 ini kami sudah membeli mesin PCR satu ditaruh di Rumah Sakit Abdi Waluyo, satu di rumah sakit ini dan nanti yang dalam proses nanti mobil PCR,” imbuh bupati.

Tak hanya itu, Rijanto juga tak sungkan meminta secara langsung kepada Gubernur Khofifah, terkit kelengkapan peralatan CT Scan dan ruanG operasi bertekanan negatif khusus COVID-19.

“Melalui kesempatan ini kami sangat berharap kepada Ibu Gubernur akan berkenan mengalokasikan dana pada 2021 nanti,” tutup Rijanto.@sarifa