LENSAINDONESIA.COM: Disaster Risk Reduction Centre Universitas Indonesia (DRRC UI) bekerja sama dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI) menggagas seminar bertajuk “Kolaborasi Pentahelix Aceh Lawan COVID-19”.

Kegiatan tersebut berlangsung secara virtual pada Jumat (11/9). Tujuan kegiatan ini adalah untuk melihat kisah dan kiat sukses masing-masing daerah dalam menangani COVID-19, sebagaimana tertuang di dalam Buku “Pengalaman Indonesia Menangani Wabah COVID-19” dan Buku Saku “Desa Tangguh Bencana Lawan COVID-19” karya sivitas akademika UI.

Sebelumnya, DRRC UI juga telah menggelar webinar dengan pembahasan serupa di Provinsi Sumatera Barat, Maluku, dan NTT.

Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan dan kerja sama dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi Aceh, TP-PKK Aceh, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Perhimpunan Ahli Kesehatan Kerja Indonesia (PAKKI), dan Universitas Syiah Kuala selaku tuan rumah penyelenggaraan seminar.

Acara dibuka dengan sambutan oleh H. Ansory Siregar (Wakil Ketua Komisi IX DPR RI); Berton Panjaitan (Kepala Pusdiklat BNPB); Dr. Nata Irawan (Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri); Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D (Ketua DRRC UI); dan Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng (Rektor Universitas Syiah Kuala).

Kegiatan ini dimoderatori oleh dr. Agustin Kusumayati, MSc, PhD. yang merupakan Ketua Asosiasi AIPTKMI dan Sekretaris Universitas Indonesia. Seminar online Kolaborasi Pentahelix Aceh Lawan COVID-19 dapat disaksikan kembali melalui kanal youtube UI.

Dalam sambutannya, Prof. Samsul Rizal menuturkan, Sebenarnya di Aceh, untuk mencapai angka 100 kasus positif Covid-19 membutuhkan waktu 111 hari. Namun kini, kasus positif di Aceh meningkat tajam sejak Juli 2020. Demikian pula kasus pasien Covid-19 yang meninggal di Aceh mengalami peningkatan.

Peningkatan kasus yang terjadi belum diikuti dengan peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan untuk COVID-19. Sikap apatis dan pesimis masyarakat membuat semakin rumit. Persoalan pandemi Covid-19 merupakan permasalahan multidimensi, sehingga membutuhkan kolaborasi pentahelix, tidak bisa dibebankan ke pemerintah semata.

“Pendekatan Covid-19 di Aceh membutuhkan keterlibatan para tokoh agama, stakeholder, tokoh masyarakat, karena masih banyak orang yang tidak percaya sama COVID-19. Universitas Syiah Kuala berkomitmen untuk mendukung pemerintah dan masyarakat menghadapi COVID-19. Hingga saat ini, Universitas Syiah Kuala telah menyerahkan 4 rekomendasi kebijakan penanganan pandemi COVID-19,” ujarnya.

Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, Dr. Nata Irawan mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan seminar ini karena menunjukkan adanya kepedulian akademisi, pemerintah provinsi hingga daerah akan penanganan COVID-19.

Demikian pula, Kepala Pusdiklat BNPB Berton Panjaitan mengucapkan terima kasih atas dukungan pentahelix di dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pandemi COVID-19, yang saat ini tengah meningkat kasusnya.

“Mari kita bersama-sama mencegah penularan COVID-19 di masyarakat. Upaya mencegah penularan menjadi agenda terbesar kita, dan mari bersama-sama meningkatkan asupan gizi masyarakat, berolahraga, menurunkan tingkat stres, dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat, serta taat akan protokol kesehatan,” tuturnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh Teuku Ahmad Dadek hadir mewakili Gubernur Aceh menyampaikan pengalaman Aceh dalam menghadapi COVID-19.

“Perlu upaya sosialisasi dan edukasi di tengah masyarakat Aceh, karena masih banyak yang belum yakin bahwa Covid-19 itu ada. Sejumlah langkah strategis penanganan COVID-19 di Aceh diantaranya penanganan medis dengan meningkatkan pelayanan kesehatan, penyediaan RS dan ruang isolasi,” ujarnya.

“Kedua, menyediakan jaringan pengaman sosial. Ketiga, pemulihan ekonomi/antisipasi krisis pangan. Salah satunya dengan memberikan dukungan buat dunia usaha. Law enforcement atas setiap pelanggaran terhadap protokol kesehatan menjadi penting dan perlu ditingkatkan di Aceh,” terangnya menambahkan.

Ketua TP-PKK Aceh Dyah Erti Idawati berbagi cerita mengenai upaya PKK Aceh untuk menangani kasus COVID-19.

Ia menuturkan, “Kami bekerja sama dengan ASN, menggebrak para ASN yang berkisar 10.000 ASN untuk menggunakan masker, sehingga para ASN dapat menjadi contoh bagi masyarakat. Inovasi lainnya yang kami jalankan adalah edukasi besar-besaran di Khutbah Jumat, penyerahan masker di masjid dan meunasah pembagian poster, pemasangan spanduk, edukasi besar-besaran,” katanya.

“GEMA atau Gebrak Gerakan Masker telah berlangsung serentak di aceh menjangkau 3.883 masjid dan 6.497 gampong/desa,” imbuhnya.

Salah seorang penulis Buku Seri Aceh, Dr. Herlina J. EL-Matury, ST., M.Kes menguraikan sejumlah kearifan lokal di Aceh.
Ia menuturkan, Pertama, I Lam Guci – sebuah guci untuk membasuh diri sebelum masuk ke dalam rumah. Garam juga dipercaya utk memperkuat imunitas tubuh–seperti merendamkan diri di air laut. Pajoh ranum, sebuah tradisi memakan sirih untuk antiseptik.

Berikutnya, Pake Gaca, yaitu memakai inai sebagai simbol untuk menjaga jarak. Di Aceh juga telah mengenal tradisi isolasi saat sakit.

“Selain itu, kegiatan berdoa di tengah wabah juga telah berlangsung. Dengan berbekal pengalaman mengalami taeun atau wabah pada abad 19, masyarakat Aceh menjadi paham dan sudah memiliki budaya untuk mengatasi wabah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PAKKI Dr. Robiana Modjo, S.K.M., M.Kes mengingatkan untuk cegah Covid-19, Hindari 3K, yaitu Keramaian, Kontak dekat dan Keterbatasan Sirkulasi Udara.

Menurutnya, yang harus diwaspadai adalah munculnya potensi klaster baru Covid-19, yaitu kantor (termasuk Kantor Desa).

Akademisi UI serta Perwakilan Penulis Buku Desa Tangguh Bencana Lawan Covid-19, Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si (Han) kembali merekomendasikan “Satu Desa Satu tenaga kesehatan”.

Ia juga mengatakan bahwa tim akademisi UI juga tengah menyiapkan buku berikutnya berjudul Buku Pesantren Tangguh Bencana.

Seminar online seri ke-empat ini diisi oleh beberapa narasumber yaitu Teuku Ahmad Dadek (Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh yang mewakili Gubernur Aceh); Dyah Erti Idawati (Ketua TP-PKK Aceh); Dr. Herlina J. EL-Matury, ST., M.Kes (Penulis Buku Seri Aceh).

Selanjutnya ada Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si (Han) (Perwakilan Penulis Buku Desa Tangguh Bencana Lawan COVID-19); Dr. Robiana Modjo, S.K.M., M.Kes (Ketua Umum PAKKI); Dr. Ede Surya Darmawan, S.K.M., M.DM (Ketua Umum IAKMI); dan Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, MT (Ka FPT PRB Indonesia).

Para penanggap diantaranya S.I.P. Dahlan Jamaluddin (Ketua DPRD Aceh); Prof. Asnawi Abdullah, S.K.M., M.H.S.M., M.Sc.HPPF, DLSHTM, Ph.D (Ketua Pengda IAKMI Aceh); Fajar Ariyanti, SKM., M.Kes., Ph.D (AIPTKMI); DR. Dr. Safrizal Rahman, M.Kes., SP.OT (Ketua IDI Wilayah Aceh); H.M. Hasyim Usman (Kepala Gampong Emperom, Kec. Jaya Baru, Kota Banda Aceh); Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia); Dr. Akhyar, ST., MP., M.Eng; Ricky Nelson (Perwakilan Dunia Usaha), dan Dr. Tgk. H. Abdullah Sani, M.A.(Ketua Komisi C MPU Aceh).@licom