LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Kota Surabaya akan memberlakukan denda kepada setiap pelanggar khususnya bagi yang tidak menggunakan masker saat berada di luar rumah.

Kebijakan tegas ini dilakukan karena masih banyaknya jumlah pelanggar pelanggar protokol kesehatan COVID-19. Padahal sebelumnya Pemkot Surabaya telah memberlakukan sanksi sosial mulai dari push-up, menyapu jalanan, hingga memberi makan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Liponsos.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, hukuman denda kepada pelanggar itu dilakukan karena sanksi sosial yang sebelumnya telah diberlakukan.

“Selama ini dendanya hanya push-up, tapi sekarang kita denda uang biar warga patuh dan disiplin terhadap protokol kesehatan.” Ujar Risma saat melakukan konferensi pers di rumah dinasnya, Kamis Siang (17/09/2020).

Hingga sekarang dirinya masih belum menetapkan berapa denda yang harus dikeluarkan para pelanggar. Karena besaran denda masih dalam proses pembahasan. Meskipun demikian dirinyamemastikan besaran denda akan berada di kisaran Rp 200 ribu-an.

“Soal besaran denda masih dibahas, namun kisarannya Rp 200 ribu-an jika warga tidak menggunakan masker saat di luar rumah.” Jelasnya.

Pelanggaran dalam penggunaan masker diutamakan mengingat penggunaan masker dapat menekan penyebaran virus Corona. Akan semakin optimal jika penggunaan masker itu disempurnakan dengan menjaga jarak, mencuci tangan dengan memakai handsanitizer.

“Memakai masker efektif menekan penyebaran virus corona, ditambah jaga jarak, cuci tangan, pakai handsanitizer.” Ungkapnya.

Pihaknya akan semakin sering dalam melakukan penegakan terhadap penerapan protokol kesehatan pada masyarakat. Hal itu dilakukan agar pandemi dapat segera berakhir dan semua kembali seperti semula.

“Saya ingin COVID-19 benar-benar lenyap dari Surabaya, kasihan kan masyarakat.”, harapnya.@budi