LENSAINDONESIA.COM: Johanes Hehamony, Hakim Ketua dalam sidang kasus narkoba, menjatuhkan vonis yang mengundang tanya kepada Fermenta Nouristana (36), Kamis (17/9/2020).

Hakim yang baru beberapa bulan bertugas di Pengadilan Negeri Surabaya ini, menjatuhkan vonis sangat ringan terhadap Fermenta Nouristana (36). Disk Jockey alias DJ yang jadi terdakwa penyalahgunaan narkotika, cuma diganjar hukuman 7 bulan penjara dan denda Rp 800 juta subsider 2 bulan kurungan.

Padahal dalam sidang sebelumnya pada Senin (31/8/2020), DJ Fermenta dituntut 7 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Putu Parwati dari Kejati Jatim.

Dalam membacakan amar putusan, Ketua Majelis Hakim Johanes Hehamony menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika, sebagaimana diatur dalam pasal 127 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2009.

“Setelah melihat bukti bukti dan mendengar keterangan saksi majelis hakim sependapat bahwa terdakwa terbukti bersalah menyalahgunakan narkotika untuk dikonsumsi sendiri tanpa ijin dari pihak terkait,” terang Hakim Johanes.

Majelis Hakim mengungkap terdakwa merupakan tulang punggung keluarga dan tidak bertele tele saat memberikan keterangan dalam sidang. Dan yang memberatkan, terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkotika.

“Setelah melakukan musyawarah, Majelis Hakim sepakat menjatuhkan pidana selama 7 bulan penjara dan dilakukan rehabilitas di Yayasan Orbit,” pungkasnya.

Mendapat vonis super ringan tersebut, terdakwa langsung menyatakan menerima. Namun, JPU Ni Putu Parwati melakukan perlawanan dan menyatakan banding. “Kami banding yang mulia, karena tidak sesuai sengan tuntutan,” ujarnya.

Terdakwa Fermenta Nouristana, Kamis (5/3/2020) ditangkap Ditreskoba Polda Jatim saat akan pesta sabu bersama dua orang lainnya yakni Ahmad Taufik dan Basuki Efendi (berkas terpisah). Saat dilakukan penggeledahan ditemukan satu poket sabu yang diselipkan di dompetnya. @rofik