LENSAINDONESIA.COM: Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi ‘urun’ pendapat terhadap adanya permintaan penundaan Pilkada Serentak 2020 oleh sejumlah kalangan.

Fahmi menilai, bahwa penundaan Pilkada tidak sejalan dengan semangat adaptasi kehidupan new normal yang selama ini dikampanyekan dan sedang dijalankan.

“Terus terang saja, secara pribadi saya tak sependapat dengan ide penundaan Pilkada. Itu tak sejalan dengan semangat adaptasi kebiasaan baru yang getol dikampanyekan. Mau ditunda sampai kapan? Siapa bisa pastikan COVID-19 sudah bukan lagi ancaman nantinya?” kata Fahmi di Jakarta, Minggu malam (20/09/2020).

Menurut Fahmi, justru yang perlu dilakukan saat ini adalah membuat skema yang aman, sehat dengan pengawasan yang maksimal.

“Menurut saya, yang perlu segera dilakukan itu ya memikirkan bagaimana skema yang aman dan sehat plus pengawasannya, bukan menunda,” ujarnya.

Dalam situasi pandemi tidak semua hal perlu ditunda atau dihentikan, termasuk mungkin pelaksanaan Pilkada. Sebab adaptasi kebiasan baru harus terus dijalankan.

“Mendorong perubahan dan kemajuan dalam penyelenggaraan (Pilkada) bagi saya lebih masuk akal. Kecuali kita benar-benar ingin bertahan dengan pola-pola lama, tidak berfikir maju, malas bikin terobosan dan jelas enggan beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru,” tandasnya.

“Kalu alasan penundaan (Pilkada) adalah untuk berfikir dan menghadirkan terobosan saya bisa pahami. Tapi sebelumnya ada begitu banyak waktu, kalian ngapain aja? Yang peserta sibuk mikir arak-arakan, yang harusnya mengawasi malah lupa kerja,” kritiknya.@LI-13