LENSAINDONESIA.COM: Jumlah generasi milenial yang bekerja di bidang pertanian menunjukkan peningkatan. Hingga pertengahan tahun 2020, sektor ini kian tumbuh dan telah menyerap 15% dari angkatan kerja di Indonesia.

Kehadiran mereka membuat industri pertanian di Indonesia cepat beradaptasi dengan teknologi. Seperti yang terjadi saat ini, akibat pandemi COVID-19 pertanian dipaksa untuk melakukan modernisasi khususnya dalam distribusi.

“Berbagai aplikasi dan fintech kita kembangkan untuk mempermudah out taker produk pertanian,” ujar Dr. Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan, Kamis (24/9/2020).

Moeldoko yang juga menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyebut digitalisasi menjadi semakin jamak diantara para petani. Sejumlah platform pesan antar yang sebelumnya kurang diminati menjadi makin populer.

Petani pun semakin bisa mengukur kebutuhan konsumen secara langsung dengan munculnya permintaan di berbagai aplikasi pertanian yang ada. Seperti Toko Tani, Rumah Pangan Kita, menjadi hub penting dalam rantai nilai pangan Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Moeldoko dalam diskusi yang digelar untuk memperingati Hari Tani. Diskusi yang berlangsung secara virtual itu mengangkat tajuk Ketahanan Pangan untuk Indonesia.

Pada kesempatan itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan bahwa tema hari tani kali ini adalah melahirkan petani-petani milenial.

“Mereka harus jadi champion-champion untuk masa depan pertanian kita,” ungkap Ganjar. Sebagai contoh, lanjut Ganjar, petani milenial di Magelang menjual cabai menggunakan gadget.

Demikian juga, petani muda di Salatiga, menjual tanaman organik melalui media sosial. Harapannya, penggunaan teknologi dalam pertanian akan mengembalikan kedaulatan dan ketahanan pangan di Indonesia.@licom