LENSAINDONESIA.COM: Presiden Prancis Emmanuel Macron menetapkan status darurat COVID-19 pada Rabu malam 14 Oktober waktu setempat. Prancis sedang mengahadapi lonjakan besar COVID-19 gelombang kedua.

Dalam status darurat ini, Macron memberlakukan jam malam di beberapa kota termasuk Paris.

“Pemerintah terapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, juga mengumumkan jam malam lokal di Paris dan delapan kota lainnya. Karena negara ini sedang berjuang dengan lonjakan besar kasus covid-19,” ujar Macron, seperti dikutip New Europe, Kamis (15/10/2020).

“Langkah-langkah baru, yang mencakup jam malam antara jam 9.00 malam hingga 6.00 pagi berlaku di Paris, Grenoble, Lille, Lyon, Marseille, Montpellier, Rouen, Saint-Etienne dan Toulouse. Langkah ini akan mulai berlaku pada Sabtu (17 Oktober) tengah malam,” imbuh Macron.

“Aturan ini akan diberlakukan selama empat minggu, dengan kemungkinan perpanjangan dua minggu, jika parlemen menyetujui langkah tersebut,” jelasnya.

Meski begitu pemerintah Prancis tetap memubuka layanna transportasi umum antar wilayah. Hanya saja, seluruh restauran dan hiburan malam ditutup sementara.

Warga diperbolehkan keluar malam bila ada keperluan penting saja. Bagi yang melanggar jam malam, akan dikenakan denda 135 Euro atau sekitar Rp2,3 juta.

“Situasinya mengkhawatirkan tapi tidak lepas kendali. Kami berada dalam gelombang kedua virus korona yang terjadi di seluruh Eropa,” kata Macron.

“Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah infeksi harian menjadi sekitar 3.000 dan bahwa penguncian nasional akan tidak proporsional,” ucapnya.

Sebelumnya Pemerintah Prancis telah mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, memberi otoritas kekuasaan untuk mengambil tindakan yang lebih ketat jika diperlukan. Namun, mereka tidak merinci langkah-langkahnya, karena Macron akan mengungkap pembatasan baru nanti.

Pada Rabu Prancis melaporkan 22.951 kasus baru covid-19. Unit perawatan intensif negara itu berada di bawah tekanan yang tidak berkelanjutan.@LI-13