LENSAINDONESIA.COM: Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 1, Eri Cahyadi yang berlatar belakang birokrat dikenal sebagai sosok yang kerap menyelesaikan problem perkampungan, mulai dari pavingisasi, sanitasi, drainase, hingga, penerangan jalan umum (PJU).

Karena reputasi Eri itulah, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) ini warga mengidentifikasi kontribusinya bagi Kota Surabaya selama ini.

Salah satunya saat ia berkunjung ke Kelurahan Kapas Madya, Kecamatan Tambaksari, belum lama ini. Warga langsung mengingat Eri sebagai sosok yang memperjuangkan pavingisasi di kampungnya. Bahkan, kunjungan Eri disambut syukuran karena jalanan kampung akhirnya sudah terpaving.

“Warga di sini sudah tidak asing lagi dengan Mas Eri. Beliau sudah berjasa lakukan pavingisasi kampung kami saat menjabat Kepala Bappeko. Tentu kampung-kampung lain pasti merasakan hal yang sama,” ujar Kartiwi, salah seorang anggota juru pemantau jentik (jumantik) di RW 2.

Kartiwi mengatakan, sudah banyak kampung yang dibantu pavingisasi oleh Eri Cahyadi. Jauh sebelum itu, saat masih menjabat kepala Dinas Cipta Karya, pavingisasi dari Eri Cahyadi sudah menyentuh ratusan kampung.

“Juga PJU. Banyak kampung di Surabaya yang dulu gelap kini jalanannya terang. Kejahatan jalanan pun berkurang. Warga jadi merasa aman,” katanya.

Kartiwi sendiri merasakan dampak kebijakan Eri. Yakni kenaikan honor jumantik seperti dirinya hingga 400 persen.

Menurut Kartiwi, lebih dari nilai nominal, kenaikan honor menunjukkan bahwa peran jumantik sangat dihargai.

“Kami ujung tombak kesehatan masyarakat. Kami berkeliling melihat jentik nyamuk di bak-bak kamar mandi untuk memastikan tak ada demam berdarah. Juga terkait standar rumah sehat,” katanya.

Sementara itu, Eri berterima kasih karena warga masih mengingat kontribusinya buat kampung.

”Ke depan, kampung-kampung, gang-gang, ke depan tidak hanya ditata dari segi infrastruktur fisik seperti pavingisasi, kelengkapan PJU, dan perbaikan drainase, tapi juga potensi ekonomi dan kreativitas warganya harus difasilitasi,” ujarnya.

Selain itu, sumber daya manusianya juga harus diperhatikan. Sebab, infrastruktur yang kuat tak akan punya dampak ekonomi jika tidak memiliki SDM yang mumpuni.

“Tentu untuk membangun semuanya, dibutuhkan pendidikan yang benar-benar layak sebagai dasar. Selain memberi banyak beasiswa, dari kampung, kita bisa memaksimalkan Balai RW. Akan difasilitasi komputer, printer, WiFi, sampai guru les gratis untuk anak-anak,” ujar Eri.@LI-13