LENSAINDONESIA.COM: Berbicara jasa transportasi online, yang selalu menjadi pertimbangan utama tertuju pada aspek keamanan. Jika keamanan sudah terakomodir dengan baik, maka rasa nyaman mampu menciptakan kondisi pertumbuhan positif pada bisnis jasa transportasi online tersebut.

Namun, tak perlu khawatir jika saat ini jasa transportasi online sudah memikirkan jauh ke depan terhadap aspek keamanan tersebut. Kendati tak dapat dipungkiri pada bisnis transportasi online ini masih bercelah bagi pelaku kriminalitas untuk melancarkan aksi kejahatannya.

Gojek, merupakan salah satu platform jasa transportasi online yang dikelola oleh PT Gojek Indonesia sudah membekali fitur bantuan darurat yang ditanamkan di aplikasi driver (mitra) berikut penggunanya. Setidaknya, melalui fitur tersebut keduanya akan merasakan kenyamanan saat perjalanan.

Resiko tetap berlaku, semenjak pengguna jasa transportasi online kian menjamur penggunanya, tingkat kriminal juga bermunculan. Antara mitra dan pengguna jasa Gojek pun menjadi korbannya. Mulai dari modus pelecahan seksual, pemerasan, penjambretan bahkan sampai merambah pada penyekapan.

Tak perlu khawatir, Gojek sudah mengantongi  solusi untuk meminimalisir kasus kriminalitas yang menimpa pada Mitra Gojek dan pengguna yakni salah satunya diakomodir dalam fitur “Safety and Emergency” (bantuan darurat).

Menurut catatan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB-UI) baru-baru ini meriset terhadap ekosistem Gojek. Hasil riset tersebut menyatakan, sebanyak 93% konsumen yang disurvei mengatakan bahwa aplikasi Gojek punya standar keamanan yang lebih baik dibandingkan industri.

Riset tersebut melibatkan 4.199 orang responden dengan periode survei selama September 2020 dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei mandiri yang disebarkan secara daring.

Minat LD FEB-UI guna melakukan studi kasus pada ekosistem Gojek berdasarkan pemikiran bahwa pandemi mampu mendorong proses digitalisasi di Asia Tenggara menjadi lebih cepat lima tahun.

Senior Manager Corporate Affairs Gojek, Teuku Parvinanda, mengatakan, fitur ini disiapkan sebagai panggilan darurat. Setiap laporan yang masuk akan direspon oleh Unit Darurat Gojek yang siap siaga 24 jam.

“Saat merespon kondisi darurat, Unit Darurat Gojek secara sigap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menawarkan bantuan yang menyeluruh mulai dari penelusuran laporan, tindakan medis, pemeriksaan fisik, pemulihan psikis dan trauma, hingga pendampingan hukum,” tandas Teuku saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan, Unit Darurat Gojek ini juga terintegerasi dengan keberadaan ambulans yang siap dioperasikan untuk penanganan medis awal. Ambulans-ambulans ini sudah tersebar di kota-kota utama di mana Gojek beroperasi.

‘Panggil Bantuan Darurat’ tersedia untuk layanan GoCar dan GoRide,” imbuh Teuku.

Sebagai langkah prefentif, lanjut Teuku, fitur pertama yang bisa digunakan agar perjalanan terasa aman yakni fitur “Bagikan Perjalanan” kepada teman-teman terdekat pengguna.

“Sebagai langkah antisipasinya, selain tombol bantuan darurat, pelanggan juga bisa memanfaatkan fitur Bagikan Perjalanan ini memungkinkan pengguna untuk membagikan informasi perjalanan kepada kerabat mereka,” ucap Teuku.

Fitur ini akan memberitahu orang terdekat terkait perjalanan pengguna saat menggunakan jasa GoCar atau GoRide. Adapun informasi yang bisa dibagikan meliputi titik penjemputan dan tujuan, nama pengemudi beserta plat nomor kendaraan, nomor order, berikut rute yang ditempuh.

Status perjalanan dan posisi lokasi pengguna bisa diketahui teman atau kerabat secara real time (langsung). Untuk mengaktifkan kedua fitur pertolongan pertama ini, pelanggan cukup klik bantuan darurat yang muncul saat membuka halaman detail pemesanan.

Di luar fitur bantuan darurat, pihak Gojek juga memastikan keamanan dalam layanan jasanya dengan menerapkan syarat yang ketat di awal seleksi mitranya.

“Gojek mewajibkan calon mitra driver untuk melengkapi dirinya dengan SKCK serta senantiasa melakukan sosialisasi Kode Etik Mitra yang wajib ditaati oleh mitra driver Gojek,” tutur Teuku.

Selain itu, lanjut Teuku, Gojek juga menjalankan program edukasi berkelanjutan kepada mitra-mitranya terkait P3K, keselamatan berkendara, dan anti-kekerasan seksual.

“Pelatihan tersebut dilakukan dengan menggandeng partner yang sudah pakar dibidangnya, yakni: Palang Merah Indonesia, Korlantas Polri, Rifat Drive Labs, serta Hollaback! Jakarta,” imbuh Teuku.

Cara penggunaan bantuan darurat untuk pengguna jasa Gojek

 

Tampilan bantuan daruat pada aplikasi Gojek. ist

Bagi penumpang dan pengemudi yang ingin menggunakan fitur bantuan darurat, pada menu “Profilku” dengan tampilan foto di pojok atas kanan. Setelah memasuki menu tersebut, pengguna bisa memilih teks “Keamanan dan keadaan darurat”.

Usai mengklik teks tersebut, maka muncul beberapa pilihan bentuk bantuan diantaranya : “Saya mengalami kecelakaan”, “Asuransi keselamatan penumpang GoRide/GoCar”, “Barang saya tertinggal”, “Saya mengalami penipuan, “Nomor handphone/email diubah orang lain”, “Fitur Penyamaran Nomor Telepon”, dan “Perangkat Keamanan pada Trip”.

Halnya fungsi menu “Saya mengalami kecelakaan”, fitur ini akan berfungsi saat penumpang atau mitra Gojek membutuhkan darurat. Dalam menu tersebut terdapat teks klik “TELEPON kami” yang ujungnya akan diterima oleh operator Gojek yang akan meneruskan laporan penumpang Gojek ke pihak kepolisian dan terkait lainnya.

Begitu pula dengan menu “Barang saya tertinggal”, penggunaanya pun sama dengan menu pelaporan kecelakaan dengan memanfaatkan fitur teks klik “TELEPON Kami”.

Kemdian untuk menu fitur “Asuransi keselamatan penumpang GoRide/GoCar”, merupakan pemaparan terkait asuransi yang diterima pengguna jasa Gojek maupun Mitra Gojek (pengemudi). Fungsi yang sama juga terletak pada menu “Fitur Penyamaran Nomor Telepon”, dan “Perangkat Keamanan pada Trip” yang sifatnya informatif.

Untuk menu fitur “Saya mengalami penipuan, “Nomor handphone/email diubah orang lain”, penggunaanya memerlukan pengisian data-data pendukung untuk dilaporkan kepada operator Gojek yang akan segera ditindaklanjuti.

Bahkan, ketika dalam perjalanan, pada tampilan aplikasi Gojek milik penumpang pun dilengkapi tombol bantuan darurat yang bisa digunakan dan terakses dengan operator Gojek yang disambungkan pada Unit Darurat Gojek yang siap menghampiri pelapor.

Gita Hanandika, Ex CTO Matakota, Aplikasi pelaporan warga asal Surabaya

“Perlu tombol pintas dari smartphone agar terkoneksi Command Center, Polisi dan sesama Mitra Gojek”

Gita Hanandika, Ex CTO aplikasi Matakota yang sempat menyabet juara I di kompetisi Ytech oleh Dubes Amerika. And

Terkait fungsi fitur bantuan darurat pada aplikasi Gojek, Gita Hanandika Ex CTO aplikasi pelaporan warga Matakota mengkritisi terkait efektifitas penggunaan bantuan darurat milik Gojek.

Menurut Gita, fitur bantuan darurat atau yang disama fungsikan dengan tombol panic button pada Gojek untuk penumpang dan Mitra Gojek selama ini hanya bersifat sebagai pelengkap rasa aman.

“Jadi, penumpang dan driver merasa lebih aman jika aplikasi Gojek menyediakan fitur bantuan darurat tersebut, namun menurut saya masih belum signifikan di saat penerapannya. Nyatanya, masih banyak terjadi pembegalan, penipuan hingga pelecehan seksual terhadap Mitra Gojek maupun penumpangnya, bisa jadi disebabkan kurangnya edukasi atau efektifitas penggunaan fiturnya,” jelas Gita.

Gita menambahkan, fungsi bantuan darurat akan bekerja maksimal jika penggunaannya simpel dan tak rumit hingga harus masuk ke dalam beberapa sub menu. Dengan demikian pengguna aplikasi tersebut memerlukan waktu untuk mengklik beberapa menu fitur. Selain itu, akses langsung (direct) kepada pihak kepolisian atau command center di setiap kota diperlukan sekali tanpa melalui operator Gojek yang sudah jelas memakan waktu.

“Gojek bisa memanfaatkan adanya tombol volume atau on/off pada smartphone pengguna aplikasinya sebagai tombol pintas tanpa memasuki setiap sub menu fitur. Misalnya, cukup menekan tombol volume beberapa kali yang mampu langsung terkoneksi pada command center atau pihak kepolisian. Di sinilah, pihak Gojek harus membuka akses langsung kepada pihak terkait tersebut tanpa melalui operator Gojek terlebih dahulu, dan fungsi tersebut bisa digunakan saat dalam perjalanan maupun saat menunggu pengemudi,” tegas Gita.

Saat mengakses menggunakan bantuan darurat, lanjut Gita, tak seharusnya juga terkoneksi dengan command center ataupun pihak kepolisian, Akses kepada sesama Mitra Gojek yang ada disekitar pun sangat membantu jika pertolongan tak kunjung datang.

“Jadi yang akan menolong penumpang ataupun driver Gojek saat terancam keamanannya itu tak hanya dari kepolisian saja. Bahkan, sesama pengemudi Gojek di sekitar pun akan menolong jika mereka ternotifikasi dengan permintaan pertolongan darurat dari penumpang atau pun pengemudi Gojek, Apalagi secara psikis sesama driver Gojek cukup kompak,” jelas Gita.

Di lain sisi, Gojek juga harus mampu terkoneksi dengan command center, Polisi dan pengemudi di semua kota. Hal ini memungkinkan jika penumpang dari Surabaya pergi ke kota lain yang hendak memanfaatkan jasa Gojek agar tetap tertangani akses bantuan daruratnya di setiap kota.

“Misalnya,ada penumpang bertempat tinggal di Surabaya, lalu mengalami kriminal dan kecelakaan saat menggunakan jasa Gojek di Jakarta, maka command center, kepiolisian dan akses pengemudi yang ada di Jakarta harus mampu mendirect (langsung) laporan ke pihak keluarga dari nomer darurat penumpang yang sempat diisi dalam form panggilan darurat aplikasi Gojek, Permasalahannya, hanya terletak pada pengiriman pesan dari bantuan darurat. Jika sistem keamanan model tersebut berfungsi, maka pengguna jasa tersebut bisa jadi berani membayar mahal, karena keamanan adalah segalanya,”tukas Gita.

Lokasi kecelakaan terdeteksi dari fungsi Gyroscope pada smartphone Mitra Gojek

Kinerja Gyroscope pada smartphone diyakini mampu mendeteksi posisi kendaraan saat kecelakan. ist

Gita juga menegaskan, jika driver GoCar mengalami kecelakaan pun akan mampu terlacak oleh Command Center, kepolisian dan sesama pengemudi GoCar. Menurutnya, koneksi dari aktifnya sensor Air Bag akan mampu menjadi alat pemicu panggilan darurat.

“Di dalam mobil itu ada socket untuk Bluetooth yang biasanya digunakan untuk sensor medeteksi kerusakan pada mobil, biasanya ada pada mobil yang diproduksi sekitar tahun 2015an. Dengan menggunakan akses BLE (Bluetooth Low Energi) yang difungsikan sebagai jalur IoT (Internet of Think), maka sensor Air Bag saat bekerja juga bisa digunakan untuk mengkoneksikan fungsi bantuan darurat aplikasi Gojek,” tutur Gita.

Di samping itu, analisa Gita juga tertuju pada penanganan kecelakaan pada pengemudi GoCar. Jika pengemudi GoCar mengalami kecelakaan di satu tempat yang jauh dari jangkauan polisi dan bahkan masyarakat akan terdeteksi dengan memanfaatkan fungsi sensor Gyroscope yang sudah tertanam pada smartphone Android dan iOS.

“Selain fungsi sensor Air Bag mampu menotifikasi sebagai fungsi bantuan darurat, koneksi sensor Gyroscope pun juga akan mempermudah tim kepolisian atau command center melacak keberadaan lokasi kecelakaan pengemudi GoCar tersebut selain melibatkan fungsi GPS tracker. Gyroscope selalu tertanam pada smartphone yang dilengkapi dengan kompas. Sebab Gyroscope memiliki kinerja dasar mampu mengukur pergerakan smartphone dari titik sudut posisinya. Hal ini biasa dimanfaatkan pada game adventure (petualangan) yang selalu menampilkan visual secara 3D, dan itu tak luput dari fungsi sensor Gyroscope,” ungkap Gita.

Amek Santoso (43) Pengemudi GoRide 

“Pembegalan marak saat driver menerima order offline

Amek, pengemudi GORide saat rehat ditengah aktifitas hariannya. And

Sementara itu, pengakuan Mitra Gojek mengalami pembegalan selalu dialami bagi mereka yang menerima order offline (order tanpa menyalakan aplikasi Gojek). Seyogiaya, Mitra Gojek tak semestinya melayani penumpang secara offline sebab rawan resiko kriminalitas.

Amek (38) pengemudi GoRide mengatakan dari pengalaman yang ia ketahui banyak pengemudi GoRide mengalami pembegalan saat menerima order offline. Dalam keadaan offline, pengemudi tak akan bisa mengakses tombol bantuan darurat.

“Saya paham banget fungsi dari tombol bantuan darurat yang ada di aplikasi pengemudi GoRide, dan itu sangat membantu sekali. Pernah saya mengalami motor saya mati mendadak mesinnya di daerah sepi. Lalu saya menggunakan tombol darurat untuk meminta bantuan melalui operator Gojek, selang beberapa menit kemudian Unit Darurat Gojek pun menghampiri saya dan ikut membantu saya kembali menghidupkan mesin motor saya dengan membawa busi cadangan,” ujar Amek.

Kaitannya dengan tindak pembegalan, lanjut Amek, itu pernah dialami rekannya karena menerima order offline. Dan yang dialami pun saat itu si pengemudi mengantar penumpang melintasi daerah yang rawan pembegalan. Sehingga hal itu mengundang para pelaku begal untuk merampas motor pengemudi GoRide tersebut usai mengantar penumpang.

“Saya sebelumnya sudah memperingati rekan saya itu, jangan sekali-kali menerima order offline saat malam hari apalagi rutenya melewati daerah rawan begal. Dan akhirnya benar terjadi, rekan saya itu dibegal di tengah jalan usai mengantar penumpang di daerah rawan tersebut. Bahkan, sempat luka-luka akibat sabetan sajam saat merampas motornya,” kata Amek.

Menurut Amek, fungsi dari tombol bantuan darurat tersebut sangat penting, dan itu pun harus terus diedukasikan kepada setiap pengemudi GoRide. Sebab hal tersebut terkait dengan keselamatan nyawa pengemudi.

“Ya selama ini memang jarang menggunakan panggilan darurat jika dalam kondisi aman.Ini perlu diedukasi terus kepada pengemudi GoRide. Namun, bagi saya panggilan darurat itu alangkah lebih baiknya jika langsung terhubung dengan kepolisian atau sesama pengemudi GoRide yang ada di sekitar jika kita membutuhkan bantuan darurat tanpa perlu menunggu kejadian menimpa kita,” beber Amek.

Agus W (45) Pengemudi GoCar

“Cukup membantu jika polisi mengetahui posisi kita melalui GPS saat dalam bahaya”

Agus W: “Fitur bantuan darurat cepat tanggap berperan penting demi nyawa penumpang dan pengemudi GoCar“. And

Sementara itu, Agus W pengemudi GoCar juga mendukung adanya respon cepat dari tim Unit Darurat Gojek yang akan membantu pengemudi GoCar jika tersandung masalah di perjalanan.

Ia mengatakan, adanya pusat bantuan di aplikasi GoCar tersebut cukup membantu dan memberikan rasa aman bagi setiap pengemudi GoCar. Apalagi potensi resiko dari pengemudi GoCar cukuplah tinggi.

“Pusat bantuan diaplikasi GoCar sangatlah membantu jika ada penumpang yang berniat jahat terhadap pengemudi. Apalagi fasilitas bantuan darurat yang ada di aplikasi GoCar tersebut bisa langsung menghubungkan ke polisi sekaligus pihak kepolisian mampu melacak posisi kita lewat Gps (Global Positioning System), itu yang kita sangat perlukan,” ujar Agus.

Agus juga menceritakan pengalaman rekannya yang sempat menjadi korban tindak kriminal dari penumpang hingga meninggal dunia. Saat itu, rekannya sedang menjemput penumpang di daerah SMA ternama di Surabaya waktu malam sekitar pukul 21.00, namun si penumpang mengorder GoCar dengan meminjam akun orang lain. Otomatis si driver GoCar menjemput penumpang tersebut hingga mengantar ke tujuan yang diminta tanpa mengetahui si pemberi order. Alhasil, saat menurunkan penumpang tersebut, driver GoCar dijerat seutas tali oleh si penumpang dari belakang hingga tewas seketika.

“Setelah pelaku berhasil membunuh driver GoCar tersebut, mayat rekan saya tadi dibuang di tengah sawah di sekitar kota Malang. Namun, atas kesigapan apparat kepolisian pelaku berhasil ditangkap. Waktu itu, pihak kepolisian mendapat laporan dari sesame rekan GoCar bahwa driver tersebut menghilang tanpa kabar hingga beberapa hari dan kami menghubungi keluarganya. Untuk itu, inilah pentingnya peran bantuan darurat cepat itu saat dibutuhkan para driver GoCar ketika tindak kriminal menimpa,” tutup Agus.@And

 Tips untuk penumpang

GoRide

  • Pastikan pengemudi dan plat motor sesuai dengan aplikasi
  • Simpan ponsel di dalam tas
  • Letakkan posisi tas antara penumpang dan pengemudi Goride
  • Pilih jasa Ojol yang terjamin keamanannya
  • Hindari menunggu driver GoRide di tempat sepi dan rawan tindak kriminal

GoCar

  • Pastikan pengemudi GoCar dan plat nomor mobil sesuai dengan aplikasi
  • Amati dahulu apakah ada orang lain atau tidak selain driver di dalam mobil.
  • Selalu duduk di kursi belakang
  • Saat naik GoCar, beritahu minimal satu orang yang dikenal
  • Gunakan bantuan darurat pada aplikasi GoCar jika ada hal mencurigakan pada oknum driver

Tips untuk pengemudi

GoRide

  • Pastikan profil penumpang sesuai dengan pesan yang diterima
  • Letakkan ponsel dengan jangkauan yang mudah jika menggunakan bantuan darurat
  • Pastikan baterei ponsel dan BBM (Bahan Bakar Mesin) terisi maksimal
  • Beritahukan salah satu rekan GoRide lain saat menjemput penumpang di daerah rawan
  • Selalu waspada terhadap kemungkinan yang mencurigakan

GoCar

  • Pastikan profil penumpang sesuai dengan pesan yang diterima
  • Pastikan baterei ponsel dan BBM terisi maksimal
  • Beritahukan salah satu rekan GoCar lain saat menjemput penumpang di daerah rawan
  • Selalu waspada terhadap kemungkinan yang mencurigakan
  • Selalu fokus mengemudi