LENSAINDONESIA.COM: Bersamaan dengan Hari Sumpah Pemuda, Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia resmi diluncurkan, pada Rabu (28/10/2020).

Gerakan ini sebagai upaya bahu membahu dalam membangun solidaritas masyarakat agar jalan menuju pamndemi terkendali. Gerakan ini diprakarsai pelbagai latar profesi yang prihatin dengan kondisi wabah.

Inisiator gerakan ini, diantaranya adalah Ahmad Mustofa Bisri, Anak Agung Gede Ariawan, Ana Sukarlan, Anita A. Wahid, Atika Makarim, Arief T. Suro, Arifin Panigoro, Boediono, Emil Salim, Erry Riyana Hardjapamekas,, Goenawan Mohamad, Henny Supolo Jay Subiyakto, Joko Anwar, Kuntoro Mangkusubroto, Lola Amaria, Lukman Hakin Syaifuddin, Natalia SoebagjoNia Dinata, Olga Lydia, Pandu Riono, Rizal Mallarangeng, Sigit Pramono, Syakieb Sungkar, Sdhamek Agung WS, Toeti Heraty Roosseno, dan lain-lain.

Tujuanya, yakni menggalang partisipasi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan melakukan testing Covid-19 di Indonesia.

Hadir sebagai pembicara, diantaranya yakni Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, Natalia Soebagjo dari Gerakan Solidaritas, dr. Pandu Riano ahli wabah dan juga inisiator Gerakan Solidaritas, dan Sekretaris Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bio-informatika Universitas Padjadjaran Muhammad Yusuf dengan moderator Olga Lydia.

Koordinator Komite Kerja Inisiator Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia, Alif Iman Nurlambang berharap untuk testing di Indonesia bisa terwujud agar pengendalian wabah berjalan baik, dan bangsa Indonesia bisa lebih aman dari ancaman Covid-19.

“Membuat tes massal itu betul betul terjadi. Ini sesuatu yang sudah diomongkan berali kali, syarat untuk mengatasi pandemi tracing, testing, treatment,” ujar Alif dalam zoom online peluncuran “Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untu Indonesia” bertema Jalan Menuju Pandemi Terkendali, dengan awak media pada Rabu (28/10).

“Mula-mula ada testing diperkuat, dan ini saatnya bagaimana itu terwujud. belum lama ini. saya kira hampir setiap minggu kalau kita baca di berbagai berita yang terkait dengan testing di indonesia, judulnya (dari berbagai media) Indonesia masih lemah dalam testing, berapapun angka yang disodorkan,” terangnya.

“Kalau ini hanya dibebankan oleh pihak Satgas penanganan Covid-19 baik pusat maupun daerah maka tidak bakal bisa terkejar,” sambungnya menegaskan.

Afif menambahkan, yang akan dilakukan oleh Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia adalah mengajak sebayak mungkin orang untuk testing secara massal agar pengandalian Covid-19 lebih baik dan cepat dan tepat.

“Seperti juga para inisiator juga lakukan bahwa testing ini itu harus menjadi upaya yang dijalankan oleh semua pihak. saya sama temen-temen semua sebagai golongan pemuda tadi itu mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak (para inisiator), data ini terus berkembang, karena makin banyak orang terus makin banyak,” pungkas Alif.

Sementara, Natalia Soebagjo, mengatakan, saat ini diperlukan terus solidaritas bersama antara masyarakat dan pemerintah, untuk saling menjaga. Selain menerapkan kebiasaan dengan 3M, juga 3T yakni testing, tracing, dan treatment.

“Gerakan 3M seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan saja tidak cukup. Tetapi juga penting dengan 3T yakni testing, tracing, dan treatment,” ujar Natalia.

Maka dari itu, sangat diperlukan tes massal untuk lebih terpetakan dan cara mengatasinya dalam pengendalian Covid-19.

Menurutnya, selama ini, yang melakukan tes PCR masih sangat rendah, disebabkan karena biayanya mahal. Untuk itu, ia mendorong untuk Gerakan solidaritas bersama-sama melakukan tes antigen.

Sekretaris Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan Bio-informatika Universitas Padjadjaran Muhammad Yusuf, berpendapat bahwa tes melalui PCR sudah bagus selama ini, namun, ada keterbatasan.

Namun, dengan adanya jeda waktu untuk mendapatkan hasil, termasuk jumlah kapasitas sampel yang bisa diperiksa menjadi kendala.

“Sementara, untuk tes antigen, hasilnya bisa didapatkan segera bahkan dalam waktu 20 menit,” terang Yusuf.

Tujuan tes antigen, lanjut Yusuf, adalah untuk membatasi penyebaran virus Covid-19 ini, ketika orang tersebut sudah positif.

“Cara pemeriksaan tes antigen ini sama dengan PCR swab diambil dari nosafaring, kemudian dicampur cairan dan dalam 20 menit sudah terlihat hasilnya. Jika sampel positif dia akan menujukkan dua garis, jika negatif hanya ada satu garis,” ujarnya.

Tes antigen ini, kata Yusuf, bisa menjadi jalan tengah dari kendala tes PCR. Tes antigen ini lebih akurat, dibandingkan menggunakan tes antibodi.

“Saat ini, tes antigen ini sudah didaftarkan di Kemenkes untuk mendapatkan izin edar,” pungkas Yusuf.

Ahli Wabah, dr. Pandu Riano menilai, bahwa ada yang mengatakan Indonesia gagal dalam mengendalikan pandemi. Padahal, justru Indonesia sebenarnya sedang menuju sukses. “Tes adalah jalan menuju pandemi itu terkendali. Selama ini, kendala di pengendalian belum optimal, sehingga diperlukan langkah inovatif yang harus dilakukan,” ujar dr. Pandu.

Saat ini, lanjut Pandu, banyak orang yang positif namun mengalami gejala (OTG), karena tidak dilakukan tes. Hal ini sangat berpotensi atau bisa saja sudah menularkan kepada orang lain.

“Mengapa selama ini tidak tidak optimal karena dalam tes PCR ada jeda menunggu hasil, sementara, orang tersebut mungkin saja sudah menularkan kepada orang lain,” terangnya.

Oleh sebab itu, Pandu menegaskan, bahwa diperlukan strategi lebih kuat, dan luas jangkauanya agar penyebaran Covid-19 bisa ditangani dengan baik.

Ia pun mengajak, dengan gerakan sejuta tes antigen ini, masyarakat berperan serta nantinya ikut bersama-sama dalam gerakan ini.

Sementara dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mendukung adanya Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia ini.

Harapanya, gerakan ini dapat menggugah siap saja untuk berpartisipasi membantu agar dapat menekan biaya tes menjadi lebih murah.

“Tes antigen ini akan disalurkan kepada masyarakat yang memang memerlukan. Dengan mengikuti gerakan ini kita telah menjadi bagian dalam menangani wabah Covid di Tanah Air,” ujar Doni.@licom

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun