LENSAINDONESIA.COM: Mengabdi pada negara pada negara tidak cukup hanya menjadi seorang polisi, tetapi juga memberikan manfaat dan memberdayakan masyarakat. Mungkin itu yang ada di dalam benak Aipda Joko Trisno.

Anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya ini memang dikenal rajin dan memiliki jiwa entrepreneur. Di sela kesibukannya sebagai polisi,

Di rumah sederhananya di Jl Wonorejo Surabaya, ia melayani pesanan berbagai macam seragam, seperti pakaian olahraga, seragam satpam, TNI/Polri, kaos hingga souvenir.

“Saya buka usaha ini karena terinspirasi dari kantor (Polrestabes Surabaya). saya lihat tiap kesatuan sering membuat seragam. Karena saya punya pengalaman, ya akhirnya saya coba-coba membuka usaha,” ungkapnya kepada lensaindonesia.com, Rabu (28/10/2020).

Joko Trisno mengatakan, bahwa usaha konveksi yang dirintis sejak 2017 itu bermodal uang pinjaman.

“Awalnya saya promosikan dengan membuat kaos Alumni angkatan Dikmaba 2001 (ERSHI). Setelah itu baru mendapat order dari kantor,” tambahnya.

Saat masih belum memiliki karyawan, ia pun mengerjakan sendiri semua pesanan sepulang berdinas. Dia bersyukur saat ini usaha sampinganya bisa berkembang meski secara bertahap. Joko Trisno masih saja membuka usaha konveksi kecil-kecilan. Itung-itung, usaha ini bisa dibuat bekal hidup mandiri ketika pensiun.

Ketika virus Corona mulai menyebar di Surabaya, pria kelahiran Tuban, Jawa Timur ini pun tergerak untuk memproduksi masker. Selain melayani pesanan, ia juga membuat masker untuk dirinya sendiri dan untuk dibagi-bagikan kepada warga di sekitar tempat tinggalnya.

“Awalnya saya hanya produksi sedikit untuk digunakan sendiri dan dibagikan kemasyarakat sekitar sini, terutamanya anak anak kecil,” katanya.

Joko Trisno sama sekali tidak menduga pandemi COVID-19 terus meluas. Ia mengaku prihatin dengan krisis kesehatan akibat virus Corona karena banyak masyarakat yang menjadi korban. Tetapi di sisi lain, usaha konveksinya seperti mendapat berkah, order pembuatan masker semakin ramai.

Ketika banyak masyarakat menghadapi situasi sulit itu, Joko Trisno yang sedang kebanjiran order pembuatan masker latas mencari warga sekitar yang kehilangan pekerjaan untuk direkrut sebagai karyawannya. Tentu, yang dia pekerjakan adalah warga yang memiliki ketrampilan menjahit.

“Akibat pandemi COVID-19, ada lima warga di sini yang terdampak, meraka kehilangan pekerjaannya. Karena mempunyai kemampuan menjahit, ya saya rekrut sebagai karyawan,” pungkasnya.

Aipda Joko Trisno mengatakan, dalam menjalankan konveksi sampingan ini dirinya tidak terfokus mengejar keuntungan besar, Namun ia lebih berupaya usahanya terus bertahan dan bisa memberi manfaat pada masyarakat, terutama di masa pandemi COVID-19.

“Kalau keuntungan, saya tidak terlalu pikirkan, yang penting buat saya bisa berbagi kepada masyarakat, utamanya sekitar sini. Apalagi di masa pendemi seperti sekarang. Mereka (karyawan) saya anggap keluarga sendiri. Dan Alhamdulillah di lingkungan sini tidak ada yang terpapar COVID-19,” ujarnya.

Sementara itu, Esti seorang penjahit mengatakan bila dirinya sudah bekerja selama 5 bulan di konveksi Joko Trisno setelah di PKH dari pekerjaan lamanya.

“Saya baru lima bulan di sini. Saya kerja di sii setelah ada pengurangan karyawan dari tempat kerja sebelumya.” ungkap Esti.@rofik

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitanganpakaisabun