LENSAINDONESIA.COM: Pelaku pembunuhan tiga orang di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis merupakan seorang pria asal Tunisia.

Pelaku yang menghabisi tiga korbannya dengan pisau pada Kamis (29/10/2020) waktu setempat itu pun tewas ditembak polisi Prancis beberapa saat setelah kejadian.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis akan mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi situs-situs penting seperti tempat ibadah dan sekolah. Peringatan keamanan Prancis pun dinaikkan ke level tertinggi.

Berbicara di luar gereja, Macron mengatakan Prancis telah diserang. Dia menegaskan aksi kejam tersebut tidak mendapat tempat di negara Eropa tersebut.

“(Serangan) atas nilai-nilai kami, untuk selera kami akan kebebasan, untuk kemampuan di tanah kami untuk memiliki kebebasan berkeyakinan. Saya mengatakannya dengan sangat jelas hari ini, kami tidak akan memberi tempat apapun (untuk teroris),” kata Macron.

Kepala jaksa anti-teroris Jean Francois Ricard mengatakan tersangka adalah seorang pria Tunisia kelahiran tahun 1999. Dia tiba di Eropa pada 20 September di Lampedusa, pulau Italia di lepas Tunisia yang merupakan titik pendaratan utama bagi para migran dari Afrika.

Sumber keamanan Tunisia dan sumber polisi Prancis menyebut tersangka sebagai Brahim Aouissaoui.

Diberitakan sebelumnya, insiden penyerangan terjadi di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis. Tiga orang dilaporkan tewas dalam peristiwa itu.

Salah satu korban yang merupakan wanita dipenggal kepalanya oleh pelaku yang melakukan penyerangan dengan pisau.

Serangan itu terjadi selang beberapa pekan setelah pemenggalan terhadap Samuel Paty, seorang guru sejarah di pinggiran kota Paris.@LI-13