LENSAINDONESIA.COM: Tes swab pada tenaga pendidik maupun non pendidik sekolah dasar (SD) dan SMP sebagai persiapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di Surabaya selesai dilaksanakan.

Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dengan nomer 800/10371/436.7.1/2020 tentang Pengaturan Kerja di Kantor, mulai hari ini, para tenaga pendidik dan non pendidik mulai masuk ke sekolah dengan protokol yang telah dirumuskan sebelumnya.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Pemerintah Kota Surabaya, Febriadhitya Prajatara mengungkapkan bahwa kembalinya para tenaga pendidik dan non pendidik ke sekolah merupakan bagian dari persiapan akan dibukanya kembali KBM tatap muka.

Yang mendasari hal tersebut adalah telah keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang menyatakan bahwa kewenangan terhadap pelaksanaan sekolah tatap muka itu dikembalikan kepada daerah masing-masing. Sehingga tiap daerah dapat mengeluarkan kebijakannya masing-masing.

“Apalagi kemarin juga ada keputusan SKB (Surat Keputusan Bersama) menteri yang menyatakan bahwa kewenangan terhadap pelaksanaan sekolah tatap muka itu dikembalikan kepada daerah masing-masing. Itu sebagai langkah awal yaitu dengan memasukkan seluruh guru baik negeri maupun swasta SD dan SMP untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah,” ujar Febri di Kantornya Minggu (22/11/2020).

Para Guru dan petugas sekolah kurang lebih setengah tahun sudah tidak datang ke sekolah dan hanya melakukan KBM secara daring atau yang biasa dikenal dengan Work From Home (WFH). Sehingga dengan kembali masuknya para guru SD dan SMP serta para petugas sekolah menjadi langkah awal dalam penerapan Adaptasi Kehidupan Baru (AKB) yang harus dijalani para guru dan petugas sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Namun, sebelum digelarnya KBM tatap muka seluruh sekolah yang mengajukan diri untuk menggelar KBM tatap muka akan terlebih dahulu ditinjau dan assesment oleh Tim Satgas COVID-19 bersama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

Setelah mendapatkan persetujuan seluruh sekolah yang telah disetujui akan segera melaksanakan KBM tatap muka.

“Setelah sekolah-sekolah yang akan diverifikasi maupun di assessment oleh Tim Satgas COVID-19, juga Dinas Pendidikan (Dispendik) maupun Dinas Kesehatan mana-mana yang bisa untuk pelaksanaan sekolah tatap muka maka akan segera dilaksanakan pelaksanaan sekolah tatap muka,” papar Febri.

Febri mengungkapkan bahwa para guru dan petugas sekolah yang memiliki Penyakit Penyerta (Komorbid) tidak diperkenankan untuk pergi ke sekolah. Mereka harus tetap menjalankan Work From Home (WFH) meskipun KBM telah dilakukan secara tatap muka. Karena dengan membiarkan mereka untuk kembali ke sekolah memiliki risiko yang besar akan tertularnya COVID-19 yang berisiko pada kematian.

“Di dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Pemkot Surabaya terkait untuk guru masuk semua, itu ada batasan-batasan. Tentunya para guru yang memiliki penyakit bawaan ataupun komorbid itu untuk sementara tetap melaksanakan WFH,” ungkapnya.

Untuk mencegah terjadinya hal yang tak diinginkan khususnya terjadinya penularan di sekolah, Pemkot Surabaya melalui Dispendik Surabaya telah menyiapkan aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Guru Surabaya (SIAGUS).

Dalam aplikasi tersebut seluruh kegiatan belajar mengajar terekam secara jelas. Selain itu dalam aplikasi ini juga terekam riwayat kesehatan guru. Dimana guru dapat melakukan input hasil swab yang telah dijalaninya. Sehingga guru memiliki peranan penting dalam keberhasilan KBM tatap muka di Surabaya.

“Jadi terpantau semua, seandainya dia ada sakit apa, kemarin sudah di swab terus kemudian hasilnya negatif atau positif di situ juga mereka melakukan input. Jadi memang kesadaran dari guru ini yang sangat dipentingkan untuk bisa tercapainya sekolah tatap muka yang ada di Kota Surabaya,” jelas Febri.@budi

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun