LENSAINDONESIA.COM: Mengendornya razia protokol kesehatan (Prokes) yang biasa dilakukan petugas gabungan Satpol PP dan Polrestabes Surabaya, dimanfaatkan sejumlah kafe berkedok restoran tancap gas dengan beroperasional sejak siang hari.

Tempat-tempat hiburan tak berijin atau yang punya ijin tapi tak sesuai peruntukannya ini hanya menyediakan bir dan jasa purel untuk menemani tamu berkaraoke. Nyaris tak ada makanan tersaji di meja seperti layaknya restoran.

Masing-masing Kafe Makassar milik Santo di Jl Kapasari (seberang RS Adi Husada Kapasari), Kafe Pop Delima Jl Kenjeran dan Kafe Top One di Jl Kenjeran 78-81, Surabaya.

Menurut penuturan salah satu karyawan Kafe Makassar, tempat kerjanya beroperasi tak menentu untuk menghindari razia.

“Karena lokasinya tepat di samping jalan raya, kami buka tak menentu. Tapi biasanya dapat info dulu sebelum ada petugas mau razia sekitar sini,” terangnya, Senin (23/11/2020).

Kafe Pop Delima lebih parah lagi. Meskipun sudah disegel Satpol PP karena melanggar Perwali 33 dan juga tidak memiliki ijin, tempat hiburan ini tetap beroperasi. Diduga beroperasionalnya tempat ini setelah ikut menyumbang 2000 masker ke Pemkot Surabaya.

Kabid Trantibum Satpol PP Surabaya Piter Frans Rumaseb saat dikonfirmasi menegaskan pihaknya akan segera melakukan penindakan terhadap kafe-kafe ilegal yang beroperasi selama pandemi Covid-19. “Terima kasih infonya. Pasti kami tindaklanjuti,” tegasnya.

Untuk diketahui, Pasal 20 Perwali 33 tahun 2020 tegas berbunyi, segala jenis tempat hiburan malam atau Rekreasi Hiburan Umum (RHU) dilarang beroperasi saat pandemi Covid-19. @wendy