LENSAINDONESIA.COM: Komunitas Pecinta Sepak Bola Persepon Ponorogo, Jawa Timur, termasuk suprternya, “Warok Mania”  kompak menyuarakan tekad memenangkan figur calon pemimpin Kabupaten Ponorogo yang baru pada Pilkada serentak 9 Desember mendatang.

Pasalnya, masyarakat Ponorogo pecinta Persepon kecewa karena selama lima tahun kepemimpinan mantan Bupati Ipong Muchlissoni yang kini maju lagi sebagai calon bupati inkamben, dinilai tidak mampu membuat  Persepon berkembang alias jalan di tempat.

Bahkan, komunitas pecinta Persepon sepertinya geregetan lantaran kondisi Persepon atau sepak bola di Ponorogo selama lima tahun terakhir dikeluhkan seolah “hidup segan mati tak mau” alias mati suri.  Miskin kompetisi dan prestasi. Memalukan lagi, dibanding wilayah  tetangga, yaitu Madiun meski perkembangan klub bolanya dianggap lamban, faktanya nasib Persepon lebih buruk.

Kekompakan memilih figur pemimpin Ponorogo yang baru demi perubahan nasib Persepon dibuktikan dengan menggelar deklarasi mendukung lawan politik Ipong di Pilkada 9 Desember, yaitu Sugiri Sancoko yang berpasangan dengan Lisdyarita pada Minggu (29/11/2020).

Kesungguhan dukungan terhadap lawan Ipong yang berpasangan dengan Bambang Tri Wahono demi memperjuangkan nasib Persepon itu dilakukan tidak tanggung-tanggung. Deklarasi berlangsung di rumah tokoh sepak bola Ponorogo, Gatot Saiman di Desa Ronowijayan, Kec. Siman, Ponorogo dihadiri  para pecinta sepak bola di Ponorogo.

Mereka diantaranya, jajaran pengurus Persepon, SSB 20 klub se-Ponorogo, pengurus maupun pemain klub sepak bola Ponorogo, suporter “Warok Mania”, dan mantan pemain Persepon. Wajar, mereka geregetan Persepon jalan di tempat. Sehingga, Persepon tidak dapat mengibarkan citra Ponorogo yang dikenal internasional sebagai “kampung halaman” kesenian Reyog Ponorogo, layaknya geliat Persik-Kediri, Persela-Lamongan, maupun Persema-Malang.

“Deklarasi (mendukung Sugiri-Lisdyarita) selain menyatukan kawan, sahabat di bidang sepak bola untuk menata ke depan agar persepakbolaan di Ponorogo lebih hidup dibanding sekarang,” kata Gatot Saiman.

Gatot Saiman memperjuangkan nasib Persepon, kali ini, sebagai pegiat sepak bola Ponorogo seolah tak mau dipermalukan perkembangan kesebelasan di daerah tetangga Ponorogo, yaitu Madiun.  Klub kesebelasan di Madiun tiga tahun belakangan itu masih bisa mengikuti pertandingan bergengsi Liga 2 dan Liga 3.

Semangat Gatot Saiman dan pecinta bola Ponorogo dalam menyatukan aspirasi Persepon ditandai secara simbolis dengan pemotongan “buceng kuat” dengan jumlah 9.

“Kami memotong 9 buceng, merupakan angka keberuntungan dan bertepatan Pilbup dilaksanakan pada tanggal 9. Jumlah kursi pengusung Paslon Sugiri Sancoko-Lisdyarita juga 9 kursi. Ini merupakan kode alam untuk perubahan Ponorogo lebih baik lagi. Ingat jangan memilih pemimpin yang tidak bisa memajukan olah raga maupun yang lain dan yang terpenting tidak cacat moral,” tegas Saiman.

Sugiri Sancoko mengapresiasi dan memahami aspirasi para pecinta bola di Ponorogo itu. Ia berjanji jika terpilih menjadi Bupati Ponorogo akan berupaya membangkitkan sepak bola Ponorogo dari anggapan “mati suri”. Dirinya yang diusung PDIP, PAN dan PPP itu, menyayangkan Ponorogo yang sejak dulu dikenal memiliki pemain-pemain hebat dan handal, namun minim kompetisi dan prestasi.

“Kenyataannya lima tahun terakhir ini non prestasi dan tidak ada kompetisi. Maka dari itu, apa yang menjadi keluh kesah baik klub, pemain maupun suporter, kita masukan dalam visi misi Paslon 01 agar persepakbolaan di Ponorogo hidup kembali,” kata Sugiri, mantan anggota DPRD Jatim yang juga dekat dengan fungsionaris sepak bola di PSSI ini. @makruf