LENSAINDONESIA. COM: Debat Publik II Pilkada Kota Surabaya digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya, Rabu 18 Nopember 2020 di Dyandra Convention Center dengan Tema Peningkatan Layanan dan Kesejahteraan Masyarakat Kota Surabaya.

Banyak statement dan data yang dilontarkan oleh kedua pasangan calon. Baik pasangan calon wali kota dan calon wali kota Eri Cahyadi-Armuji maupun Machfud Arifin-Mujiaman memaparkan data yang mereka miliki.

Dalam kesempatan kali ini, Calon Wakil Wali Kota (Cawawali) Surabaya nomor urut 1, Armuji mengungkapkan hasil survei terkait kepuasan warga Surabaya terhadap Pelayanan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Berdasarkan hasil yang disampaikan oleh Armuji, menunjukkan bahwa warga Surabaya sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Pemkot Surabaya. Dari hasil survei yang disampaikan olehnya Pemkot mendapatkan kepuasan mencapai 90%. Meskipun demikian tidak menjelaskan dari mana sumber dari data yang dia sampaikan dirinya hanya mengungkapkan bahwa itu berasal dari semua riset terkait Kepuasan Warga terhadap Pelayanan yang dilakukan Pemkot.

“Perlu diketahui oleh publik hasil riset, semua riset 90% warga Surabaya puas kepada pelayanan Pemkot Surabaya,” ungkap Armuji.

Jika dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan oleh yang dilakukan oleh lembaga survei Surabaya Survey Center (SSC) terdapat selisih. Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh SSC hasilnya hanya 78,4 % atau masuk dalam kategori puas terhadap pelayanan Publik yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya.

Sementara itu jika melihat dari hasil Survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Reserch & Consulting (SMRC) pernyataan dari Armuji cukup sesuai. Dimana berdasarkan hasil Reserch yang dilakukan oleh SMRC, Pemkot Surabaya mendapatkan hasil 97% yang masuk pada kategori sangat puas.

Sementara itu pada kesempatan yang sama pada Debat Publik Pilwali Surabaya 2020, Cawawali Surabaya nomor urut 2, Mujiaman mengungkapkan bahwa jumlah kasus stunting (kondisi gagal pertumbuhan pada anak) yang ada di Surabaya saat ini sebanyak 15 ribu. Kata dia, hal itu berdasarkan data yang ada di website milik Pemkot Surabaya.

Bahkan jika melihat data nasional, ucap Mujiaman, jumlah stunting di Surabaya masih berada di atas 22 ribu.

“Jumlah stunting menurut Surabaya (Pemkot,red) di websitenya 15 ribu sementara menurut nasional masih berada di atas 22 ribu,” papar Mujiaman.

Faktanya, pernyataan Mujiaman ini tidak tepat sebab berpatokan pada data tahun 2019, bukan tahun 2020.

Jika kita merujuk pada data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya tahun 2018 jumlah kasus stunting mencapai 16.000 atau tepatnya 16.220 balita yang mengalami stunting atau 8,9 %.

Sementara data pada tahun 2019 jumlah kasus stunting turun menjadi 15.391 atau 8,54 persen. Sedangkan data Bulan September 2019, jumlahnya hanya 7.040 balita dari 178.043 balita atau hanya sekitar 3,95 persen.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinkes Kota Surabaya, Febria Rachmanita dalam keterangan pers-nya pada Sabtu 7 Nopember 2020. Jika diperhatikan dari data-data milik Dinkes, data yang dijadikan patokan dan sampaikan Mujiaman dalam debat Pilwali adalah data tahun 2019.

“Khusus untuk tahun 2020 sampai Bulan September, jumlahnya 7.040 balita dari 178.043 balita atau hanya sekitar 3,95 persen. Jika melihat dari data ini, maka angka stunting menunjukkan tren penurunan,” terang Feny.@budi