LENSAINDONESIA.COM: Jurnalis senior Jawa Timur, M Anis menyikapi wabah panjang pandemi
Covid-19, berkreasi di luar zona jurnalistik. Ia mengerahkan 30 pelukis dari berbagai daerah di Indonesia untuk memamerkan karya masing-masing secara virtual, selama sebulan penuh selama Desember 2020.

Harapan M Anis,  karya-karya pelukis itu bisa menebarkan daya imun masyarakat menghadapi wabah Corona yang kian hari tidak kunjung surut.

M Anis yang mantan Pemred Tabloid Detik –sebelum berubah media online– mengangkat tema perlawanannya terhadap pandemi Covid-19 ini dengan tajuk ‘Virtual Joint Painting Exhibition in December’. Ruang pamer karya para seniman lukis itu dikemas dalam bentuk
galeri online dengan nama domain PasarLukisan-com.

 

Karya: Ali Taufan, Sidoarjo

 

Kreasi Anis yang kini hari-harinya bekerja sebagai Pemred Ngopibareng.com ini, sengaja dia dedikasikan kepada para pelukis yang turut mendukung. Ini supaya karya-karya para perupa bisa diapresisasi masyarakat lebih luas dan dengan jumlah penikmat lebih banyak.

“Ini solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir,” kata M Anis, Surabaya, Jumat (4/12/2020).

Tidak sekadar itu. Anis yang dalam perjalanan karier sebagai jurnalis kerap mewarnai kreatifitas berkesenian, bahkan lebih intim dengan seniman dan budayawan ketimbang insan jurnalis ini, menawarkan misi lain yang tak kalah penting dari menggagas pameran lukisan secara virtual.

“Dalam kondisi yang tidak normal sekarang ini, celakanya masyarakat Indonesia setiap saat justru dijejali dengan isu politik yang menyesakkan. Padahal, seharusnya pandemi salah satunya harus dilawan dengan suasana yang segar dan menghibur agar dapat menghasilkan imunitas terhadap tubuh,” katanya.

Pameran virtual ini, menurut dia, salah satu misinya adalah menyebarluaskan keindahan melalui karya lukis, sebagai upaya untuk menghadirkan kesegaran pada masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Rupanya, muatan pesan moral itu yang membedakan pameran virtual yang digelar Anis dibanding pameran-pameran virtual yang kini dijadikan alternatif para pelukis di tanah air maupun mancanegara.

 

Gus Dur, Karya: Nabila Dewi Gayatri, Surabaya.

PERNAH GAGAL

Anis bukan kali pertama ini mengundang para pelukis dari berbagai daerah di Indonesia untuk memamerkan karya secara kolegial. Bedanya, tahun-tahun sebelumnya, Anis menggelar pameran di Surabaya secara konvensional. Diberi brand “Pasar Seni Lukis Indonesia” (PSLI).

Sejak mundur dari Tabloid Detik –selanjutnya Tabloid Detik berubah jadi detik.com– Anis tiap tahun menggelar PSLI. Bahkan, 2019 seharusnya kreasinya memasuki tahun ke-13. Sayangnya, persiapan yang matang dengan peserta 130 seniman lukis, gagal digelar.

Pasalnya, Gedung JX Expo yang dikelolah perusahaan pemerintah daerah, BUMD Jatim terkesan tidak support pemberdayaan ekonomi kreatif karya para seniman yang bukan pekerja industri mainstream. Malahan, BUMD pasang bandrol sewa gedung layaknya industri komersial non kesenian.

Padahal tahun sebelumnya, 2018, Menteri Pariwisata Arief Yahya –Kabinet Jokowi periode I– yang membuka PSLI ke-12 di tempat yang sama –Gedung JX EXpo– amat mengapresiasi kegiatan ekonomi kreatif PSLI. Event yang saat itu memamerkan 5000 lukisan karya 200 pelukis dinilainya, sangat bermanfaat dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Presiden Jokowi, Karya: Pingki Ayako Saputro, Surabaya.

“PSLI menyediakan wadah pasar bagi seniman. Sebuah sarana pertemuan antara supply produk orang kreatif di bidang seni dan demand dari para peminat seni,” kata Arief dikutip dari CNN.com, Jumat (12/10/2018).

Ketiga puluh pelukis pendukung Anis melawan pandemi, kali ini, bukan cuma jumlahnya jauh lebih kecil dibanding pameran pameran konvensional-nya sebelumnya. Daerah asal pelukis pun tidak semerata event tahun-tahun sebelumnya. Malah, PSLI 2018 sempat diikuti seniman lukis dari negara-negara tetangga di Asia.

Berikut nama 30 pelukis yang ikut melawan Covid-19;

Pelukis Jatim; M. Nasruddin, Ali Taufan, Ary Indriastuti (ketiganya dari Sidarjo-Jatim), Anggik Suyatno, Daniel de Quelyu, Sri Murniati Murni, Nabila Dewi Gayatri, Paulina dan Pingki Ayako (Surabaya), Azam Bakhtiar (Malang), Eggita Wahyudi dan Yudi Dogol (Gresik), Camil Hady (Lamongan).

Lainnya, Eko Tomo (Jombang), Esthi Hayati (Bondowoso), Susmiadi (Jember), Syamsul Anim (Mojokerto), Tri Irianto (Banyuwangi), Ruslan (Kediri), Aries Maulana (Blitar).

Pelukis Jawa Tenga; Nurindrini (Solo), Cak Min Mustamin dan Karang Sasongko (Klaten), Agus Salim (Ungaran), Masruri (Tegal), Triani Trinil (Purwokerto).

Pelukis Jawa Barat; Tyas Febrian (Sukabumi), Ismail Marjuki (Bekasi), Sulis Listanto (Kota Depok).

Pelukis Ubud, Bali; Djoko Sutrisno.

Pameran virtual lawan Covid-19 ini bisa jadi pendobrak untuk sustainable industri kreatif. Keniscayaannya bisa jadi jauh lebih cemerlang dari pameran konvensional atau pameran “offline”. Perlu kepiawaian merajut jejaring produsen –seniman lukis– dan pasar penikmat maupun pembeli. Termasuk, rutinitasnya “ajeg” dan mampu menawarkan harapan puas bagi penikmat. @redut