LENSAINDONESIA.COM: Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), Maarif Institute dan Love Frankie didukung Google.org, menggelar program Tular Nalar.

Program ini hadirkan kurikulum literasi media sebagai latihan berpikir kritis melalui berbagai sarana pembelajaran, mulai dari video, website, artikel rubrik, dan lain-lain.

Program Tular Nalar meliputi berbagai jenjang, kompetensi literasi media bisa diasah sesuai konteksnya.

Apa maksud Tular Nalar? Kata ‘Tular’ bermakna menjangkiti, atau menginfeksi. Lazimnya, kata-kata ini digunakan untuk kasus-kasus epidemiologi atau penularan penyakit. Namun, dalam program ini, virus yang ditularkan adalah sesuatu yang baik, yakni ‘Nalar’.

Ya, Nalar atau reasoning sebagai bagian dari aktivitas berpikir merupakan virus yang harus disebarluaskan ke mana-mana.

Bernalar kritis tak hanya sebagai jargon, namun juga pada praktik keseharian guna menghindarkan orang dari bencana darurat literasi.

Kurikulum literasi media Tular Nalar merupakan kunci program secara menyeluruh.

Untuk mengembangkan kurikulum literasi media yang mengakomodasi perkembangan media terkini, hadir 8 (delapan) pakar dari beragam latar belakang dan disiplin keilmuan bergabung dalam Lab Kurikulum yang berlangsung selama 4 bulan (Agustus s.d November 2020).

Para pakar di balik kurikulum Tular Nalar tersebut dari Dr. Novi Kurnia, PhD (Ketua Jaringan Pegiat Literasi Digital Indonesia—JAPELIDI), Dr. Puji Lestari, M.Si. (pegiat komunikasi kebencanaan), Dr. Syarifah Ema Rahmaniah, M.Si. (pegiat literasi kesehatan), Dr. Arnidah Kanata, M.Si. (pakar teknologi kurikulum), Dr. Ni Made Ras Amanda, M.Si. (Ketua ISKI Bali, pegiat digital parenting), Fanny S. Alam (Ketua Sekodi Bandung, aktivis isu keberagaman dan pluralisme), Gilang Adikara, M.Si. (dosen prodi Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta), dan Ramaditya Adikara (novelis, pegiat isu disabilitas).

Dalam situasi pandemi, kurikulum pembelajaran media literasi Tular Nalar berhasil dituntaskan kendati para pakar berada di lokasi terpisah: Jakarta, Bandung, Denpasar, Yogyakarta, Makassar, dan Balikpapan.

Untuk menjadi insan melek digital, yang memiliki kemampuan berpikir kritis, terdapat 3 jenjang Tular Nalar yaitu TAHU, TANGGAP dan TANGGUH.

Kelas daring ini membidik para dosen dari disiplin ilmu Komunikasi, Ilmu Kependidikan, Kesehatan Masyarakat, dan Administrasi Publik.

Di akhir program, pada Desember 2021, menargetkan memberikan pelatihan kepada 1.200 dosen, 5.500 guru SMA, dan menjangkau tak kurang dari 20.000 mahasiswa.@Rel-Licom

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun