LENSAINDONESIA.COM: Tragedi tewasnya enam anggota FPI yang tertembak peluru polisi di Tol Cikampek Km 50, Karawang, Jawa Barat, belum juga surut jadi gunjingan warga Pasar Baru Dalam, Kel Pasar Baru Timur Dalam, Kec. Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Salah satu korban, Muhammad Reza, termasuk paling menonjol jadi pembicaraan di warung-warung, tempat-tempat kongkow warga di daerah tempat tinggal korban itu.

Wajar, lantaran Reza –panggilan akrabnya– yang disebut-sebut sang syuhada bertugas pengawal utama Habib Riziek Shihab itu, tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, pria jawara, suka berkelahi, dan selalu tampil menakutkan.

Reza, ternyata hanya seorang pemuda yang sehari-hari dikenal sebagai Hansip, lantaran profesinya cuma Satpam kampung di daerah tinggalnya, Pasar Baru Dalam, Kel Pasar Baru Timur Dalam itu.

Usia Reza yang lahir di Jakarta pada 7 Juni lalu, genap 20 tahun. Lantaran penghasilannya hanya mengandalkan sebagai Hansip, sehingga Reza belum juga ada keberanian menargetkan  menikah.

“Dia sehari-hari hanya menjadi Hansip di kampung. Saya tidak mengira nasib anak saya jadi begini,” kata Ny Tuti Suryani, Emaknya Reza, kedua matanya berkaca-kaca.

Reza di mata tetangga maupun emaknya ini dikenal cukup hormat kepada orang tua, menyayangi emaknya dan tidak bisa berpisah jauh dari sang emak. Maklum, dia putera bungsu dari 10 bersaudara. Bahkan, sejak usianya masih enam bulan sudah menjadi anak yatim. Ayahnya
meninggal akibat sakit.

Saking sayangnya terhadap emaknya ini, Reza kesehariannya juga suka membantu sang emak menyiapkan menu dan ikut menanak nasi untuk dijual si emak di Pasar Baru Timur Dalam, Pasar Baru.

Sebagai Hansip kampung pada malam hari, penghasilan Reza jauh dari layak. Cuma Rp200 ribu per bulan. Karenanya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Reza kadang jadi tukang parkir di daerah tinggalnya itu.

“Kadang – kadang jadi tukang parkir. Beberapa hari terakhir sebelum peristiwa, Reza kasih saya uang hasil dari tukang parkir Rp 20 ribu. Sorenya, saya dikasih lagi Rp 10 ribu. Saya sempat nolak, ga usah Reza, emak masih ada uang, kan kemarin sudah dikasih. Tapi, dia tetap bilang ga apa – apa Mak. Ini buat Emak jajan,” kenang Emaknya, masih berkaca-kaca.

Emaknya ini sangat maklum, anaknya tidak memiliki perkerjaan yang layak. Karena dia ditinggalkan ayahnya sejak sejak bayi, sehingga emak ini mengaku tidak mempunyai biaya untuk bisa menyekolahkan putera bungsunya itu. Kadang emak ini sedih melihat Reza yang lahir dan hidup di kota besar Ibu Kota Jakarta, namun hanya bisa sekolah sampai Kelas 2 SD.

Walau begitu, Emak Suryani bersyukur puteranya meski hanya sekolah Kelas 2 SD, namun bisa ikut kegiatan keagamaan di FPI.

“Dia semangat banget kalau untuk ikut pengajian dan bergabung di FPI. Anaknya ga macem – macem, ga neko – neko kaya’ anak kebanyakan yang suka mabuk, berantem. Alhamdulillah, ikut tauziah di FPI makin baik saja,” ungkap sang Emak.

Empat hari sebelum dikabarkan tewas tertembak, menurut Emak Suryani, dirinya merasakan ada perilaku Reza yang tidak seperti biasa. Rada janggal dan aneh.

Biasanya, kata emaknya ini, Reza setiap pamit ikut acara di FPI, dia selalu pulang ke rumah, meskipun sudah tengah malam.

“Sudah empat hari Reza tidak pulang. Biasanya kalau habis dari acara FPI langsung pulang. Meskipun tidak tidur di rumah, Reza pasti pulang dan tidur di Pos RW,” tuturnya.

Reza terbiasa tidur di Pos RW, karena rumah yang ditempati bersama ibu dan tiga kakaknya terbilang jauh dari layak. Rumahnya yang berada di pemukiman padat itu, hanya berukuran 2 x 3 meter. Rumahnya yang berlantai dua sangat sederhana ini bekas musholah, pemberian seorang dermawan di kampungnya.

Terakhir jumpa dengan Reza, Emak Suryani mengaku saat anaknya ini pamit ikut menjemput kedatangan Habib Riziek Shihab. Tepatnya, Kamis, 6 Desember 2020.

“Reza pengen banget jemput Habib, biar pun belum dikabarkan pasti pulang ke Indonesia, katanya. Dia pengen jemput Habib dengan temen – temennya,” kenang Emak Suryani.

Sejak pamit itu, Emak Suryani tidak pernah lagi mendapat kabar keadaan Reza. Kemudian, Emak Suryani kaget dan cemas begitu menerima kabar, Reza hilang saat mengawal Habib.

Esoknya, Emak Suryani lebih terkejut dan sedih begitu ada berita di televisi kalau anak kesayangannya ini tewas tertembak polisi lantaran menyerang aparat polisi.

“Saya ga yakin, Reza sampai berani melawan polisi. Apalagi, bawa bawa senjata api. Anak saya itu hanya Hansip kampung,” kata Emak Suryani, ekspresinya sedih. @sofie