LENSAINDONESIA.COM: Arief Wahyudianto dan Agustinus Danang, dua bersaudara asal Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berinovasi memadukan agrobisnis dengan pariwisata. Konsep perpaduan tersebut direalisasikan melalui agrowista Jogja Anggur seluas 2.200M2 yang berada di Desa Patalan, Kecamatan Jetis.

Saat ini, Jogja Anggur yang diresmikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) pada 15 Desember 2020 lalu itu telah menjadi sebagai salah satu agrowisata unggulan di wilayah Bantul, Yogyakarta.

Arief Wahyudianto menyampaikan, di lahan yang disewa dari Desa Patalan ini, di awal 2019, dirinya bisa menanam 40 varietas anggur.

“Tujuan dari inivasi ini adalah untuk mengangkat taraf hidup masyakat Bantul yang sebagian besar adalah petani. Iklim tropis sangat cocok untuk anggur. Kami berharap kebun anggur ini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari menanam tanaman komoditas lain,” kata Arif pada lensaindonesia.com, Kamis (31/12/2020).

Dari sebanyak 499 bibit anggur berbagai varietas yang ditanam awal Maret 2019 tersebut, enam bulan kemudian, tepatnya pada 28 September 2019, Arif dan Danang sudah bisa melakukan panen perdana.

Berdasarkan panen perdana itu, Arif dan Danang sudah bisa membandingkan, bahwasanya pertanian anggur memiliki potensi hasil lebih besar dibanding tanaman komoditas lain.

“Penanaman padi di lahan 1 hektar biasanya petani mendapatkan 9 ton gabah dengan hasil sekitar Rp 27 juta dipotong biaya tanam sekitar separoh yaitu Rp 14, maka pendapatan bertanam padi adalah sekitar Rp 13 juta dalam 4 bulan atau sekali panen. Artinya, hanya mendapat hasil rata-rata Rp 3,25 juta perbulan. Yang artinya itu bisa dikalahkan dengan hasil panen anggur di lahan setengah hektar dengan kapasitas tanam 500 pohon dengan rata-rata tiap pohon menghasilkan 10 kg buah,” jelas Arif.

Arif menyebut, bertanam anggur di lahan setengah hektar dengan kapasitas tanam 500 pohon hasilnya cukup lumayan besar dibanding bertaman padi. Apalagi, anggur bisa panen 3 kali dalam setehun.

“Estimasi nilai ekonomisnya 5 ton atau 500 Kg anggur adalah angka yang menarik untuk dipikirkan bersama. Tinggal kita kalikan berapa harga per kg buah anggur. Belum lagi produk-produk turunan dari buah anggur itu sendiri.”

‘Sungguh ini angka yang luar bisa sebagai media untuk mensejahterahkan masyarakat dan petani yang membudidayakan anggur khususnya di wilayah Jogja,” ujarnya.

Arif dan Danang berharap, kedepan dirinya bisa mendirikan Kawasan Mandiri Foof Estate di Yogjakarta sebagai pusat edukasi, agrowisata dan bisnis anggur di Indonesia yang memiliki iklim tropis.


Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meresmikan Agrowisata Jogja Anggur di Kabupaten Bantul, 15 Desember 2020. FOTO: jogjanggur

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meyakini sektor pertanian merupakan masa depan Indonesia. Pandemi COVID-19 sedikit banyak membuka mata untuk introspeksi diri. Sektor pertanian yang selama ini terkesan terpinggirkan, justru mempunyai peran signifikan sebagai salah
satu penopang perekonomian nasional.

“Terbukti di tengah situasi pandemi, ketika sektor-sektor penyangga perekonomian nasional mengalami kontraksi pada kuartal II tahun 2020, pertanian justru menjadi satu-satunya sektor yang tetap tumbuh positif, menyumbang 15,46% terhadap Produk Domestik Bruto, meningkat dari kuartal I sebesar 12,84%,” jelasnya.

Bamsoet menyampaikan, bahwa alam dan iklim di Indonesia memiliki potensi luar bisa bila terus dikembangkan.

“Biasanya anggur dibudidayakan di negara yang memiliki empat musim, terutama di kawasan Eropa. Ternyata berkat keuletan dan inovasi dua bersaudara, Arief Wahyudianto dan Agustinus Danang, anggur bisa tumbuh di Indonesia yang memiliki iklim tropis,” ujar Bamsoet.

“Menunjukkan tidak ada yang tak mungkin untuk dikembangkan di Indonesia. Selain menjadi tempat agrowisata yang edukatif, hasil panen Jogja Anggur bisa menjadi momentum menekan masuknya anggur impor. Pencapaian yang patut didukung,” imbuhnya.

Ketua DPR RI ke-20 ini memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas anggur nasional pada 2019 mencapai 13.724 ton. Paling tinggi berasal dari Bali (13.088 ton), Jawa Timur (539 ton), Sulawesi Tengah (38 ton), NTT (18 ton), Jawa Tengah (14 ton), NTB (13 ton), Sulawesi Tenggara (5 ton) dan Yogyakarta (4 ton).

“Jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Kementerian Pertanian melaporkan sepanjang Januari-September 2020, Indonesia mengimpor 48.912 ton anggur dengan nilai mencapai USD 164 juta,” ujarnya.

“Kehadiran Jogja Anggur mampu menggarap 500 pohon anggur yang terdiri dari 40 varietas di lahan seluas 2.200 meter persegi, dalam setahun bisa tiga kali panen. Setiap pohon menghasilkan sekitar 10-20 Kg anggur. Diharapkan produktivitas anggur nasional, khususnya dari Yogyakarta, bisa meningkat tajam,” imbuhnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menekankan di sisi lain tingginya impor anggur harus menjadi cambuk penyemangat bagi para petani anggur untuk lebih meningkatkan produktivitas. Selain juga menjadi peluang bagi siapapun yang ingin menjadi petani anggur, karena potensi market di dalam negeri sangat besar.

“Pemerintah juga harus memberikan pemberdayaan dan perlindungan, sehingga masyarakat semakin bergairah melahirkan sentra agrowisata seperti Jogja Anggur, yang perlahan namun pasti bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap buah impor,” ujarnya.

“Pemenuhan buah dari produksi dalam negeri selain bisa meningkatkan derajat, harkat dan martabat bangsa, juga bisa membuka banyak lapangan pekerjaan dan multiplier effect ekonomi lainnya,” pungkas Bamsoet.

Peresmian Jogja Anggur beberapa waktu lalu dihadiri anggota DPD RI yang juga Permaisuri Raja Kesultanan Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Bupati Bantul, Suharsono, Anggota MPR RI/Komisi X DPR RI Robert Kardinal, Anggota MPR RI/Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman dan Rektor UPN Yogyakarta, Dr. Irhas Effendi.

Peresmian dilanjutkan dengan penandatangan nota kesepahaman (MoU) terkait pemanfaatan teknologi pertanian antara Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dengan Jogja Anggur.@LI-13