LENSAINDONESIA.COM: Sebuah studi menyatakan jika tembaga mampu membunuh virus dan bakteri. Cara kerjanya yakni dengan merusak lapisan pelindung dan mengganggu proses vitalnya.

Bahkan, pemakaian tembaga untuk tujuan kesehatan infonya sudah digunakan sejak zaman Mesir Kuno.

Bahkan, baru-baru ini ilmuwan telah menemukan manfaat luar biasa dari unsur tersebut untuk membunuh virus Covid-19.

Virus terbunuh jika tersentuh

Dilansir dari laporan laman Insider, tembaga memiliki sifat antimikroba yang artinya bisa membunuh mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Namun syaratnya, mikroorganisme itu harus bersentuhan langsung dengan tembaga agar virus terbunuh.

Penelitian terbaru dari New England Journal of Medicine baru saja menemukan fakta menarik terkait hal itu. Tembaga ternyata efektif melawan SARS-CoV-2 yang merupakan virus penyebab COVID-19.

Pada penemuan tersebut, diperoleh hasil bahwa virus tidak lagi infeksius usai berada empat jam di atas permukaan tembaga. Sebagai perbandingan, virus Corona tetap infeksius atau dapat menular di atas permukaan plastik bahkan setelah 72 jam.

Pada studi yang sama, para peneliti menentukan permukaan paling penuh kuman di rumah sakit. Di antaranya rel tempat tidur, tombol panggil perawat, meja baki, lengan kursi, dan tiang infus.

Lalu semuanya diganti dengan komponen tembaga dan hasil yang didapatkan cukup memuaskan.
Alhasil, 83 persen pengurangan bakteri di atas permukaan benda berbahan tembaga, dibandingkan dengan ruangan yang dibuat dengan bahan tradisional.

Selain itu, tingkat infeksi pasien berkurang hingga 58 persen.
Fakta ini bukan pertama kalinya jika unsur tembaga terbukti mempan melawan virus. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Health Environments Research and Design Journal pada 2014, beberapa kuman yang bisa dibunuh tembaga diantaranya MRSA, Influenza A, E. coli, dan Norovirus.

Efek samping penggunaan tembaga

Namun, masih ada beberapa sisi negatif penggunaan tembaga. Pertama, unsur ini lebih efektif membunuh bakteri dibandingkan menghancurkan virus, terutama virus yang menyebar di udara.

Sebab, virus sebenarnya bukan organisme hidup. Mereka merupakan agen infeksi yang tidak ‘hidup’ seperti layaknya sel sehingga lebih tahan lama.

“Virus bisa bersentuhan langsung dengan saluran pernapasan bagian atas dan mata serta memasuki sel-sel sehat, sehingga strategi tembaga sebagian besar tidak efektif,” jelas Edward Bilsky Ph.D, Rektor dan Kepala Bagian Akademik di Pacific Northwest University of Health Sciences.

Selain itu, ada beberapa klaim tidak berdasar yang bisa menyesatkan orang. Sejumlah perusahaan memasarkan produk berbahan tembaga yang dijanjikan bisa memberi perlindungan antimikroba bagi pemakainya, namun tidak efektif.

Produk tembaga juga lebih sulit diaplikasikan di rumah. Sebab barang-barang tersebut harus dirawat agar mencegah oksidasi yang menyebabkan warnanya berubah menjadi kehijauan seiring waktu.

Sayangnya, perawatan ini mencegah sifat antimikroba yang bermanfaat dari tembaga. Jadi pilihannya dua, tetap mempertahankan sisi estetika produk tembaga, namun tidak memperoleh hasil yang efektif atau sebaliknya.

Harapannya, penelitian lebih lanjut bisa semakin memahami sifat antimikroba tembaga sehingga ditemukan cara paling efektif untuk menggunakannya di kehidupan sehari-hari kita.@mp,Eld-Licom

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun