LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah Kota Surabaya kembali menunda pelaksanaan sekolah secara tatap muka yang rencananya akan dimulai Januari ini.

Kebijakan ini diambil sebab kondisi Surabaya masih zona oranye persebaran COVID-19. Selain itu berdasarkan data hasil swab yang dilakukan usai libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021 terdapat sejumlah guru yang terkonfirmasi COVID-19.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Soepomo menyampaikan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kebijakan sekolah tatap muka guna memutuskan cara pembelajaran yang akan diselenggarakan kedepannya.

Pihaknya akan melibatkan Dokter Anak, Persakmi (Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Pakar Epidemiologi, dan pihak lainnya untuk berdialog agar sekolah tatap muka nantinya bisa berjalan aman.

Soepomo belum bisa memastikan kapan pelaksanaan sekolah tatap muka di Surabaya akan dilangsungkan.

“Kita akan lakukan evaluasi, kita akan segera lakukan rapat koordinasi (Rakor) dengan pakar dan pihak terkait, agar keputusan pembelajaran ke depan adalah keputusan yang terbaik. Ada dokter anak, Persakmi, Pakar Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair, dan pihak terkait lainnya,” terang Soepomo saat ditemui usai simulasi tatap muka yang dilakukan di SMPN 1 Surabaya, Rabu Pagi (06/01/2020).

Evaluasi dan Rakor perlu diambil agar tidak terjadi klaster penularan COVID-19 selama penyelenggaraan sekolah tatap muka yang berakibat pada dihentikannya proses belajar mengajar di sekolah. Ia berharap nantinya sekolah tatap muka tersebut berjalan terus dan tak berhenti di tengah jalan.

“Saya ingin ini (sekolah tatap muka,red) terus berjalan tak berhenti di tengah jalan. Apalagi sampai menimbulkan klaster baru COVID-19,” harap Soepomo.

Selain melakukan evaluasi, Dispendik akan kembali melakukan tes swab terhadap para guru, petugas sekolah, dan para siswa. Setelah terkhir kali dilakukan menjelang dilakukan simulasi sekolah tatap muka di sekolah-sekolah yang telah di-assesment oleh Satgas COVID-19 beberapa waktu lalu. Apalagi Dispendik mendapati adanya sejumlah guru yang terkonfirmasi COVID-19 seusai libur panjang.

“Kami tidak akan gegabah dalam mengadakan sekolah tatap muka. Kami harus melengkapi data-data yang diperlukan dalam sekolah tatap muka, termasuk mengagendakan swab kepada anak-anak,” jelasnya.

Soepomo menegaskan, diselenggarakan sekolah tatap muka nanti, tidak akan menghilangkan adanya sekolah daring. Sebab pandemi COVID-19 belum usai. Nantinya, para siswa akan ada yang belajar tatap muka, akan ada yang daring. Selain itu Dispendik akan mendata guru yang berumur di atas 50 tahun untuk selanjutnya menginstruksikan para guru tersebut untuk tetap mengajar dari rumah.

“Saya tegaskan kembali bahwa sekolah tatap muka tidak akan menghilangkan sekolah melalui daring. Ini untuk mengakomodir anak-anak yang tidak dapat bersekolah tatap muka jadi mereka bisa sekolah daring. Jadi nanti ada dua (Cara untuk sekolah,red),” tegasnya.@LI-13

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun