LENSAINDONESIA.COM: Kerusuhan di Gedung Capitol pasca Pilpres Amerika Serikat (AS) pada Rabu 6 Januari 2021 berbuntut panjang. Parlemen terus berupaya memakzulkan Presiden Donald Trump.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (parlemen) AS Nancy Pelosi menyampaikan, pihaknya akan memulai proses pemakzulan ke dua Donald Trump. Hal ini disampaikan Nancy Pelosi dalam sebuah surat yang ditulis pada Minggu, 10 Januari.

Pada Jumat 8 Januari lalu, belasan anggota parlemen telah menandatangani pemakzulan Trump.

Nancy Pelosi menyatakan, bahwa terkait kerusuhan di Gedung Capitol, Trump adalah ancaman terhadap demokrasi.

“Untuk melindungi konstitusi dan demokrasi, kita harus bertindak cepat, karena presiden ini merepresentasikan ancaman nyata bagi keduanya,” tulis Nancy Pelosi, seperti dilansir dari laman Stuff.co.nz pada Senin (11/01/2021).

“Kengerian dari serangan yang dilancarkan terhadap demokrasi kita oleh presiden ini semakin meningkat dan harus segera ditangani,” sambungnya.

DPR AS yang dikuasai Partai Demokrat diyakini akan mengajukan proposal pemakzulan pada Senin hari ini atau Selasa besok. Strategi Demokrat adalah mengecam aksi Trump, namun menunda sidang pemakzulan di Senat selama 100 hari.

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa langkah Demokrat hanya bersifat simbolis, karena masa jabatan Trump hanya tersisa beberapa hari lagi.

Demokrat ingin persidangan pemakzulan di Senat ditunda agar presiden terpilih Joe Biden dapat fokus menjalankan pemerintahan di 100 hari pertamanya.

Jim Clyburn, orang nomor tiga di jajaran Demokrat di DPR AS, memaparkan strategi partainya pada Minggu kemarin.

“Mari kita berikan presiden terpilih Biden 100 hari yang ia butuhkan untuk mendorong agenda-agendanya,” tutur Clyburn.

Sebelumnya, Nancy Pelosi juga mengancam akan mendakwa Presiden Donald Trump kecuali Wakil Presiden mengambil tindakan atas serangan massa pendukung Trump ke Gedung Kongres.

Nancy Pelosi dan pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer mendesak Wakil Presiden Mike Pence untuk meminta ketentuan dalam Konstitusi untuk mencopot Presiden Donald Trump dari jabatannya setelah para pendukungnya membobol Capitol.

Diketahui, sekelompok orang yang setia kepada Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Capitol Hill pada Rabu 6 Januari 2021. Serangan ini menghentikan penghitungan suara pemilu oleh Kongres untuk mengonfirmasi kemenangan Presiden terpilih Joseph R. Biden Jr.

Polisi langsung mengevakuasi anggota parlemen dari gedung di tempat kekerasan, kekacauan terjadi. Insiden ini dianggap telah mengguncang inti demokrasi Amerika Serikat.@LI-13/Stuff.co.nz/The New York Times/The Denver