LENSAINDONESIA.COM: Imam Baihaki (24) mahasiswa asal Dusun Krajan III, Jember, diciduk Tim Cyber Ditreskrimsus Polda Jatim karena menjual hasil tes rapid antigen palsu.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Gatot Repli Handoko mengatakan, penangkapan ini dilakukan berdasarkan informasi yang diterima Tim Cyber Polda Jatim. Petugas langsung melakukan penelusuran untuk mengungkap kasus hasil tes rapid antigen abal-abal ini.

Penelusurannya mengerucut kepada Imam yang kedapatan memasarkan dagangannya melalui media sosial Facebook.

“Diketahui bahwa ada seseorang berinisial IM, di Jember yang memperjualbelikan hasil rapid tes antigen tanpa pemeriksaan medis. Dia posting di Facebook dengan harga Rp 200 ribu per lembar,” terang Kombes Gatot Repli di Mapolda Jatim, Senin (11/1/2021).

Imam sendiri telah menjual sedikitnya 44 lembar hasil rapid tes antigen palsu dengan mengatasnamakan Laboratorium Klinik Nurul Syifa di daerah tersebut.

Imam juga memasarkan produknya pada petugas pengawas TPS di daerahnya. Total 24 petugas pengawas waktu itu membeli surat itu melalui imam dengan harga Rp 50.000. “Tersangka sudah melakukan mulai dari awal Desember, tadinya tersangka sempat berkecimpung di pengawas TPS,” imbuhnya.

“Kemudian ada sekitar 24 orang yang terindikasi reaktif, itu beli surat di dia seharga Rp 50 ribu. Pasca Pilkada dia telah menjual 20 lembar dengan harga Rp 200 ribu,” lanjutnya.

Menyikapi hal tersebut, Polda Jatim berkomitmen untuk mengungkap lebih banyak lagi kasus jual beli hasil rapid tes antigen palsu.

“Yang menggunakan (pembeli), kami duga sementara dengan memesan ini seharusnya yang beli sudah tau. Nanti kita lakukan pendalaman. Kita berkomitmen untuk mengungkap lebih banyak lagi,” tegasnya.

Dari tangan tersangka tunggal ini, polisi menyita 1 laptop, 1 handphone, 1 simcard dan beberapa sampel hasil rapid tes antigen tanpa pemeriksaan medis.

“Tersangka dijerat Pasal 51 JO 35 UU ITE dengan hukuman penjara 12 tahun dan denda 12 Milyar JO Pasal 236 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara,” pungkas mantan perwira Densus 88 Anti Teror ini. @wendy