LENSAINDONESIA.COM: Plt Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) secara daring yang diselenggarakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama kepala daerah yang wilayahnya diberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Rakor ini untuk memaksimalkan pelaksanaan PPKM.

Whisnu menyampaikan, poin-poin yang dibahas dalam Rakor tersebut. Salah satunya adalah jam operasional mal dan tempat perbelanjaan.

Kata dia, mal dan tempat perbelanjaan diperbolehkan beroperasi hingga jam 20.00 WIB. Hal ini mengacu pada Peraturan Wali Kota (Pewali) Nomer 2 Tahun 2021 yang menggantikan Perwali Nomer 67 Tahun 2020 tentang Penerapan Protokol Kesehatan Dalam Rangka Pencegahan dan Memutus Mata Rantai Penyebaran COVID-19 di Surabaya.

Keputusan untuk membatasi jam operasional mal dan tempat perbelanjaan sendiri lebih malam jika dibandingkan dengan instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Dimana jam operasional dibatasi hingga jam 19.00. Hal itu diambil berdasarkan hasil Rakor yang menyesuaikan dengan kearifan lokal.

“Memang instruksi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tertulisnya pukul 19.00 WIB, namun ketika rapat tadi kita koordinasi, bisa dilakukan sesuai dengan kearifan lokal. Kita melihat kabupaten/kota juga menutup pukul 20.00 WIB,” ungkapnya usai mengikuti Rakor secara daring dari Ruang Sidang Wali Kota Surabaya usai mengikuti, Senin pagi (11/01/2021).

Terkait Work From Home (WFH) berdasarkan hasil Rakor, kegiatan industri dan pabrik mendapat pengecualian untuk tetap melaksanakan kegiatan secara normal. Namun tetap harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat kepada seluruh pekerjanya. Selain itu, sektor industri dan pabrik akan tetap mengikuti instruksi Mendagri dengan WFH 75% berlaku bagi seluruh perusahaan termasuk swasta.

“WFH tetap berlaku 75% untuk semua perusahaan negeri dan swasta, kecuali industri atau pabrik tetap dapat beroperasi 100% dengan menjaga protokol kesehatan,” paparnya.

Whisnu menegaskan, pihaknya tidak akan menutup dan melakukan filterisi di seluruh batas kota. Namun akan melakukan penebalan personel kepolisian untuk melakukan pengawasan terhadap tiga batas kota utama. Dintaranya adalah di City of Tomorrow (Cito), Tambak Oso Wilangun dan terakhir di Wilayah Merr. Hal ini merupakan usulan dari Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Edison Isir.

“Usul Pak Kapolrestabes, akan ada penebalan personel tapi tidak kita lakukan filterisasi di batas kota. Tapi hanya di tiga titik yaitu di Cito, di Tambak Oso Wilangun, maupun di MERR, itu yang ada penebalan personel (kepolisian) untuk memantau keluar masuk warga,” jelasnya.

Whisnu kembali mengingatkan agar warga tidak khawatir dan trauma karena PPKM ini tidak seperti PSBB yang pernah diterapkan di Surabaya sebelumnya. Menurutnya hanya beberapa aspek saja yang menjadi soroton dan diberi batasan. Selebihnya sama seperti kegiatan Surabaya sebelum pelaksanaan PPKM ini.

“Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, masyarakat Surabaya tidak perlu trauma dan takut seperti PSBB sebelumnya karena lebih banyak peraturannya seperti Perwali 67. Cuma ada satu yang paling penting yaitu pembatasan jam operasional mal dan tempat perbelanjaan,” imbaunya.@budi

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun