LENSAINDONESIA.COM: PT Darmi Bersaudara Tbk (Perseroan) targetkan pertumbuhan bisnisnya capai 50 persen di tahun 2021 usai menggelar Right Issue (penerbitan saham baru) senilai Rp 30 miliar dengan harga saham Rp 100 per lembar.

Hal tersebut disampaikan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPSLB) Luar Biasa yang digelardi darbe Cafe Surabaya, Senin (11/01/2021).

Nanang Sumartono Hadiwidjojo, SH selaku Direktur Utama PT Darmi Bersaudara Tbk mengatakan, dalam RUPSLB kali ini disampaikan tiga agenda utama untuk mendongkrak progress pertumbuhan bisnis tahun 2021.

“Agenda pertama yakni pemilihan akuntan publik dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Rizki Firmansyah sebagai auditor keuangan. Disamping terdaftar di OJK, biaya yang dibebankan cukup kompetitif. Agenda kedua kita menggelar Right Isuue ((Penerbitan sham baru), dan yang ketiga persetujuan kembali perubahan posisi salah satu direksi,” papar Nanang di depan awak media.

Ia menjelaskan, Right Issue yang kami gelar yentunya sudah disetujui oleh para pemegang saham. Dan memang langkah tersebut harus dilakukan sebagai solusi taktis di masa pandemi.

“Right Issue tersebut kami terbitkan senilai Rp 30 miliar dengan nominal saham Rp 100 per lembar yabg akan dicatatkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari penambahan modal Rp 30 miliar tersebut dalam bentuk tunai, kita alokasikan 80 persennya untuk belanja bahan baku, 10 persen untuk publikasi dan 10 persennya untuk pemasaran. Dengan komposisi tersebut, kami berharap di tahun 2021 ini bisnis kami akan tumbuh hingga 50 persen,” tutur Nanang.

Ia menambahkan, dari pertumbuhan 50 persen tersebut, bisa dikonversikan dalam bentuk ekspor kayu berkapasitas 600 hingga 700 kontainer. Dan komposisi alokasi modal tersebut masih bersifat tentatif, sebab masih perlu riset saat proses realisasinya.

“Nilai pertumbuhan tersebut maaih wajar, sebab sementara ini eksisting market kaminadandari India yang kontribusinya cukup mendominasi. Sebab di India, kami sudah memiliki kantor representatif. Selain itu juga pemerintah India akan menggalakkan pembangunan rumah bersubsidi,” tegasnya.

Agenda ketiga, terkait perubahan posisi direksi baru disampaikan Komisaris Utama Abdul Haris Nofianto bahwasanya Lie Kurniawan yang sebelumnya menjadi Direktur independen, kini dipercaya menempati posisi sebagai Direktur Pengembangan Usaha.

“Setidaknya dengan ditunjuknya Lie Kurniawan sebagai Direktur Pengembangan Usaha ini akan mampu mendongkrak pertumbuhan bisnis perseroan. Kita juga perlu riset pasar lagi terkait alokasi modal Rp 30 miliar tersebut untuk komposisi prosentasenya. Kita juga nanti konsultasi dengan regulator dan investor,” ungkap Haris.

Perlu diketahui, target Right Issue tersebut berdasarkan buku Desember 2020 dan mulai diberlakukan pada Februari 2021 mendatang. Atau maksimal dua bulan sejak penyelesaian administrasi.@Eld-Licom