LENSAINDONESIA.COM: Jumlah korban gempa bumi di Kabupaten Majene dan Mamuju Sulawesi Barat (Sulbar) terus bertambah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengatakan, sampai saat ini, korban jiwa akibat gempa magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat (Sulbar) bertambah menjadi 42 orang. Sebanyak 34 orang meninggal di Kabupaten Mamuju. Dan 8 orang di Kabupaten Majene.

BNPB juga menyebutkan, saat ini jumlah pengungsi terus bertambah. Di Kabupaten Majene, pengungsi mencapai sekitar 15.000 orang. Warga mengungsi di 10 titik pengungsian, yakni Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, DesaPetabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Desa Limbua di Kecamatan Ulumanda, Kecamatan Malunda dan Kecamatan Sendana.

Guna mengatasi banyaknya korban tersebut, saat ini Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Dinas Sosial (Dinsos) Sulbar membangun tiga posko dapur umum bagi korban gempa. Fasilitas itu untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi para penyintas gempa di Kabupaten Majene dan Mamuju.

“Posko ada di tiga titik di Stadion Manakarra, di Kantor Gubernur, dan Majene,” kata Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos, M Syafii Nasution, dalam Breaking News Metro TV, Sabtu (16/01/2021).

Menurut dia, rencananya posko dapur umum difokuskan di satu titik, yakni Kantor Gubernur. Hal ini demi distribusi dan komunikasi berada dalam satu komando.

Syafii menyebut situasi di Sulawesi Barat belum sepenuhnya kondusif. Namun, pemerintah berupaya semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan dasar seluruh korban. “Bantuan dari Kemensos ada dari gudang kami di Bekasi. Kami juga bawa logistik dengan membawa tenda gulung,” papar dia.

Dia menyebut tenda gulung ialah bantuan yang penting. Pasalnya, masih ada warga di sekitar Majene-Mamuju yang tidur di dalam mobil. “Karena trauma setelah gempa dengan magnitudo 6,2,” tutur Syafii.@LI-13/metrotv