LENSAINDONESIA.COM: WP (34) Direktur PT DTMK terseret jadi tersangka menyusul ditangkapnya M Baidowi (43) asal Socah, Bangkalan, Madura, terkait kepemilikan 16.375 kilo potassium chlorate untuk dijadikan bom ikan.

Diketahui, WP menjual potassium chlorate secara serampangan tanpa mengetahui latar belakang pembelinya, akan dijadikan apa bahan kimia tersebut.

Dirpolair Korpolairud Baharkam Polri, Brigjen M. Yassin mengatakan, WP juga mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan dengan tujuan penjualan untuk mendapatkan keuntungan saja.

Sedangkan hasil uji laboratorium yang telah dilakukan, bahan tersebut merupakan senyawa kalium klorat (kclo3) yang merupakan komponen bahan peledak low explosive.

“Ahli Labfor menerangkan bahwa potassium chlorate merupakan bahan kimia oksidator dan dapat digunakan sebagai bahan peledak,” jelas Brigjen M. Yassin, Senin (18/1/2021).

Dari pengungkapan ini, polisi mengamankan total 40.375 kilo alias 40 ton lebih3 bahan peledak dari tiga lokasi yang berbeda. Selain itu, juga ditemukan berbagai alat perakitan bahan peledak serta dokumen-dokumen.

Menurutnya, dengan diungkapnya kasus ini polisi telah menyelamatkan ratusan hektar biota laut dan terumbu karang. Sebab, 1 bom dapat merusak terumbu karang hingga radius 50 meter

“Potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan adalah seluas 800 hektare dari keseluruhan total barang bukti. 1 buah bom ikan diledakkan memiliki daya ledak radius 50 meter,” tutupnya.

Para tersangka dijerat Pasal 1 ayat (1) Undang-undang darurat no 12 tahun 1951 tentang bahan peledak atau Pasal 122 nomor 22 tahun 2019 tentang sistem budidaya pertanian berkelanjutan dan Pasal 127 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009. Ancaman hukumannya adalah mati atau seumur hidup atau hukuman penjara setinggi-tingginya 20 tahun. @wendy