LENSAINDONESIA.COM: Kapal Pinisi Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) sekitar pukul 14.00 WITa, Jumat (22/1), meninggalkan dermaga Paotere Makassar menuju Sulawesi Barat untuk misi bakti sosial membantu korban gempa.

Dr Agus Harianto SpB, direktur RSTKA, mengatakan, “Ada hikmah dari keterlambatan kami. Memang, ada perasaan sedih saat yang lain sudah bekerja memberikan pertolongan, sementara kami masih terhambat di Makassar. Namun, ini seperti jalan yang dibukakan Tuhan agar kami bisa memberikan pelayanan yang lebih lengkap,” ujar Agus.

Keberangkatan kapal sempat tertunda dari jadwal karena cuaca buruk saat dalam perjalanan dari Surabaya dan saat melintasi sisi timur Laut Jawa. Cuaca tidak juga membaik saat kapal berlabuh di Makassar. Dengan pertimbangan cuaca, kapal berada di Makassar hingga dua hari.

Penundaan keberangkatan ini dimanfaatkan untuk mempersiapkan pelayanan lebih lengkap.

Para relawan berkesempatan belanja untuk kebutuhan dapur umum. Maka, kapal berangkat dengan tambahan muatan dua ton beras dan satu ton sembako dan keperluan dapur lainnya.

Perjalanan dari Makassar menuju Sulawesi Barat diperkirakan memakan waktu 35 jam.

Bukan hanya pelayanan medis di kapal, namun relawan RSTKA juga diterjunkan ke kawasan lain yang membutuhkan.

RSTKA adalah kapal pinisi yang dilengkapi peralatan medis dan obat-obatan. Sebagaimana rumah sakit, di dalam kapal juga terdapat ruang operasi dan layanan medis lainnya.

Relawan RSTKA juga menyiapkan layanan trauma healing, layanan edukasi, layanan kesehatan, penyediaan air bersih, terapi kerja, dan shelter hunian sementara kerjasama dengan ITB, dan layanan lain.@licom