LENSAINDONESIA.COM: Berbicara terkait hobi bersepeda, cukup menarik dibahas di tengah masa pandemi Covid-19 ini.

Betapa tidak, banyak warga saat ini menghabiskan sebagian waktunya untuk bersepeda demi menjaga kondisi tubuh guna membentuk imun yang kuat hadapi masa pandemi.

Halnya Edi Priyanto, Direktur Sumber Daya Manusia PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) kali ini menjadi nara sumber Lensaindonesia.com yang merupakan salah satu penghobi olah raga bersepeda.

Edi mengaku bahwa dirinya hobi bersepeda sejak duduk di bangku sekolah menengah. Bahkan, saat itu di setiap harinya Edi terbiasa mengayuh pedal sepedanya hingga 60 km setiap harinya untuk menempuh ke sekolah hingga di hangku kuliah pun berlanjut.

“Bersepeda itu sudah bagian dari hidup saya sampai saat ini. Waktu kuliah di Universitas Sebelas Maret masih bersepeda, namun sempat berhenti. Dan akhirnya berlanjut sampai saat ini. Bahkan, saya sudah biasa bersepeda dari rumah ke kantor yakni dari Sidoarjo menuju lokasi kantor yang berada di ujung kota Surabaya ini,” terang Edi saat ditemui, Jumat (29/01/2021).

Di masa pandemi ini, Edi tak menyurutkan hobi bersepedanya. Bahkan, pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Humas Pelindo III ini tak membatasi segmen bersepedanya. Mulai dari Road Bike hingga Offroad pun dijalani.

Itu pun terbukti dari koleksi sepedanya mulai dari Mountain Bike, Seli, hingga Road Bike.

“Kendati segmen berbeda, yang terpenting adalah kesiapan pengamanannya. Helm, itu salah satu terpenting. Kemudian cek kondisi fisik sepeda dan yang pasti kondisi diri sebelum mengayuh,” papar Edi.

Di masa pandemi Covid-19 ini, lanjutnya, untuk persiapan terutama pengecekan kondisi fisik diri harus dilakukan. Sebab saat kondisi belum fit, hal tersebut jika dipaksa akan berefek samping.

“Di masa pandemi ini, pesepeda harus rutin melalukan medical check up. Selain itu, untuk penggunaan masker pun juga harus sesuai kondisi diri jika memungkinkan. Kalau merasa sesak nafas dan jantung berdetak kencang saat mengayuh sepeda, yah nggak boleh dipaksa juga,” tutur Edi.

Edi menambahkan, salah satu penyebab fatal kematian mendadak saat bersepeda yakni alami gangguan jantung. Hal ini kebanyakan timbul lantaran mengabaikan cek kondisi jantung.

“Ada salah satu cara bagi sepeda yang biasa menggunakan smartwatch yang didalamnya ada pengukur detak jantung. Saya biasa menggunakan rumus 220 dikurangi jumlah usia, maka akan tampil hasil angka yang bisa dijadikan ukuran maksimal detak jantung pesepeda agar tak melebihi angka tersebut setiap bersepeda, itu bersifat warning dan bisa disinkronisasikan dengan format alarm,” bebernya.

Menurutnya, patokan tersebut akan memudahkan pesepeda mengantisipasi gangguan jantung mendadak.

“Saat melewati tanjakan saat bersepeda, itu merupakan pengukur dari kekuatan jantung. Dan itu bisa diketahui melalui smartwatch,” tandas Edi.

Peran digital bantu menekan resiko pesepeda

Bersepeda di berbagai medan jadi tantangan menarik bagi Edi Priyanto. Ist

Jika disadari, peran digital di tengah aktifitas bersepeda juga penting untuk terkorelasi dengan kesehatan.

Bahkan, kini sudah banyak pesepeda memanfaatkan fitur-fitur smartwatch dan beberapa aplikasinya yang sudah seabrek tersedia di playstore maupun Appstore pada iOS maupun PlayStore pada gawai berbasis Android.

“Sementara ini banyak yang menggunakan aplikasi penunjang bersepeda berbasis lokasi dan informasi kondisi pesepeda. Namun, belum ada fitur yang mampu merekam dan update rute yang telah ditempuh pesepeda untuk dijadikan guidance,” imbuh Edi.

Bahkan, menurut Edi, untuk keamanan dan perlindungan pesepeda juga sangat diperlukan.

“Tak sedikit pesepeda menjadi korban pembegalan. Mengingat perangkat sepeda saat ini juga banyak yang dibanderol cukup tinggi yang jadi incaran pelaku begal. Untuk itu perlu sekali adanya fitur panic button sebagai pertolongan darurat,” ungkapnya.

Panic button (tombol pertolongan darurat) yang dimaksud Edi tersebut yakni mampu menginformasikan kondisi darurat dari pesepeda saat ada ancaman melalui tombol darurat dari gadget.

“Tombol darurat tersebut bisa memanfaatkan fungsi tombol power on/off handphone tanpa perlu menekan tombol yang ada dalam aplikasi. Jadi, yah tombol power on/off handphone tersebut sudah otomatis terkoneksi saat pesepeda berhasil mengunduh aplikasi untuk pesepeda tersebut,”terang Edi.

Selain keamanan darurat, pesepeda juga sangat memerlukan update informasi lokasi bengkel sepeda. Ini juga membantu pesepeda saat mengalami kerusakan.

“Sangat membantu sekali jika ada apalikasi yang menyediakan update informasi lokasi bengkel sepeda. Sebab ini memudahkan kita saat sepeda kita mengalami kerusakan,” tukas Edi.

Ia menyimpulkan, olah raga bersepeda tak sekedar persiapan fisik, paham medan dan teknis. Namun, untuk era kini, pesepeda juga harus dituntut paham digital.

“Ya nggak hanya paham persiapan fisik diri, kuasai medan rute dan teknik perbaikan darurat. Yang pasti pesepeda juga harus melek digital. Sebab apapun aktifitas kita ini juga mendapatkan kemudahan dari digitalisasi,” pungkas Edi.@Eld-Licom

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun