LENSAINDONESIA.COM: Perkumpulan Penghuni Pemilik Pedagang (P4) di Mall City of Tomorrow (Cito) menolak realisasi Siloam dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, menjadikan apartemen kawasan Cito sebagai tempat darurat merawat pasien Covid-19.

Sekretaris P4 Cito, Yazid Mualim mengatakan, sebanyak 400 pedagang di dalam mall tersebut telah melakukan rapat koordinasi dan menolak rencana rumah sakit darurat Covid-19 yang akan realisasi bulan ini.

Menurutnya, tempat perbelanjaan tidak dapat disejajarkan dekat dengan tempat perawatan Covid-19. Hal itu bisa menurunkan jumlah pengunjung mall.

“Pusat mencari nafkah dan berbelanja kok mau didirikan rumah sakit rujukan Covid, jelas membuat keresahan. Customer mikir ngapain belanja dengan tempat yang bersebelahan dengan rumah sakit. Ini harus diperhatikan dampak sosialnya,” terangnya, Rabu (3/2/2021).

Para pedagang merasa pengelola Cito ‘main belakang’ dengan para pedagang. Apalagi sampai saat ini, pengelola dinilai tidak dapat memberikan kejelasan.

“Kami kebingungan tahu-tahu ada informasi PLT Walikota Surabaya meninjau survey kesini, rencananya akan membuat rumah sakit Covid. Kani sudah ketemu dengan manajemen Cito tapi tidak bisa memberikan informasi detail,” tegasnya.

Mereka berharap adanya dialog antara manajemen Cito, Pemkot Surabaya dan para pedagang untuk mencari solusi bersama. Namun mereka tetap bersikeras menolak. “Kami gak mau menerima kompensasi apapun, pokoknya tetap menolak,” tandasnya

Dikonfirmasi terpisah, Manager Proyek Siloam Cito, Sian Tjoe, berdalih pihaknya dirinya tidak mengetahui terkait penolakan yang dilakukan P4 mall Cito.

“Waduh saya gak tahu tentang penolakan ini, ya kami akan coba tanyakan ke pihak Siloam,” tuturnya.

Dinkes Surabaya sendiri belum mengeluarkan ijin operasional RS darurat Siloam Cito untuk menangani pasien terkonfirmasi Covid-19.

“Penanganan protokol kesehatan sesuai dengan protokol Kemenkes dan WHO. Saya tidak berani memulai RS kalau belum ada izin dari Dinkes Surabaya,” tutup Sian. @wendy