LENSAINDONESIA.COM: Pengurus Bank Sampah Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengundang Pengelola Kampung Edukasi Sampah RT.23 RW. 07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo gelar sharing session secara daring pada Sabtu malam, (06/02/2021) .

Gelaran tersebut mengusung tujuan untuk menemukan solusi untuk memanajemen pengolahan Bank Sampah di masa pandemi Covid-19 ini.

Salah satu Pengurus Bank Sampah Syariah UINSA, Lusiana Dewi mengatakan, aktifitas bank sampah dikampusnya terdampak Pandemi COVID-19, apalagi tidak ada kegiatan belajar mengajar secara offline, sehingga kegiatan bank sampah terhenti dan tidak beroperasi.

“Kami bersama pengurus saat ini melakukan berbagai upaya, diantaranya mengajak sharing session dengan Kampung Edukasi Sampah agar bisa memperoleh inspirasi guna menghidupkan kembali Bank Sampah Syariah yang sebelumnya berhasil dengan produk unggulan yakni dikonversikan tabungan sampah dengan tabungan saham” tandasnya dalam keterangan resmi yang diterima Lensaindonesia.com, Minggu (07/02/2021).

Sementara itu, Pengelola Kampung Edukasi Sampah, Edi Priyanto dalam diskusi tersebut menerangkan, pandemi COVID-19 secara tidak langsung berakibat peningkatan volume sampah, peningkatan ini didominasi dari sumber rumah tangga dan pemukiman. Hal ini terjadi salah satunya sebab dampak adanya Work From Home (WFH), take away, belanja online. Disamping itu, juga banyak sampah seperti : masker bekas, botol obat, dan tisu yang rentan menjadi media penyebar wabah COVID-19.

“Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering (anorganik) dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah, sehingga kami mengapresiasi apa yang telah dilakukan kawan2 Pengurus Bank Sampah UINSA dalam rangka ikut peduli terhadap penanganan sampah di lingkungan kampus”, terang Edi.

Edi menambahkan, Pengurus Bank Sampah Syariah di UINSA sebaiknya mulai memposisikan diri sebagai entrepreneur, yakni berfikir dan mencari inovasi agar nasabah dalam hal ini mahasiswa untuk terus termotivasi menabung sampah di bank sampah. Inovasi baru bisa dilakukan terkait layanan ataupun award bagi nasabah yang mungkin akan membuat mahasiswa lain yang selama ini belum tertarik menjadi berkontribusi menjadi nasabah.

“Saat pandemik seperti sekarang ini, perlunya juga melakukan langkah ekspansi ke luar kampus, dengan melakukan jejaring bisnis dan diluar kampus misalnya dengan warga, RT, RW atau bank sampah warga bahkan dengan pihak pemerintahan kota demi pemanfaatan botol air mineral sebagai alat pembayaran transportasi” ungkap Edi.

Menurutnya, manajemen Bank sampah bisa menerapkan kebijakan khusus agar nasabah secara mandiri melakukan pemilahan sampah sebelum disetorkan ke bank sampah.

“Saya yakin dengan langkah tersebut akan mendapatkan keuntungan seperti: pemilahan sampah dimulai dari masing-masing, sampah terpilah mudah dibawa dalam kondisi bersih ke bank sampah, dan sangat membantu serta memudahkan petugas bank sampah berikut nilai jual tinggi jika kondisinya bersih”, pungkas Edi.@Rel-Licom

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun