LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah sudah mempersiapkan pengolahan fosil energy menjadi green energy di masa transisi energi ini.

Peralihan tersebut terjadi dalam waktu singkat, yakni antara 5 – 10 Tahun. Bahkan, banyak perusahaan energy besar dunia sudah melakukan langkah transisi untuk masuk ke green energy.

Nanang Abdul Manaf, Anggota Dewan Pengawas BLU Lemogas Kementrian ESDM (Staf Ahli Menteri ESDM). Ist

Nanang Abdul Manaf, Tenaga Ahli Komisi Pengawas SKKMigas mengatakan, dalam energy transisi, di tahun 2030 pemakaian energi fosil masih dominan dalam bauran energi yakni sekitar 40%, dan di 2050 sekitar 36%.

“Untuk itu, kebutuhan akan energi fosil masih dominan dan butuh upaya luar biasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut”, tandas Nanang dalam keterangan tertulis, Rabu (24/02/2021).

Ia menambahkan, eksplorasi penting dilakukan sebab setiap Barel produksi minyak dimulai dari satu New Field Wildcat Well.

“Tanpa eksplorasi jangan berharap ada cadangan migas baru”, tuturnya.

Menurutnya, disadari atau tidak, Easy Oil Era sudah habis, dan kini industri hulu migas dihadapkan dengan beberapa tantangan diantaranya: produksi migas terus turun, area eksplorasi berada di frontier area, waktu komersialisasi lenemuan eksplorasi terlalu lama, investor kurang tertarik utk eksplorasi di indonesia, serta perlu upaya breakthrough untuk mempermudah investasi.

Dipastikan investasi migas untuk eksplorasi membutuhkan biaya besar. Bisa mencapai triliunan rupiah. Untuk itu, perlu fiscal terms yang aktraktif, regulasi dan politik yang stabil.

“Saat ini indonesia memiliki basin atau cekungan potensi migas sebanyak 128. Sebanyak 20 basin sudah berproduksi, 27 basin di bor dengan penemuan, lalu 13 basin di bor tanpa penemuan dan sisanya 68 Basin belum di eksplorasi”, terang Nanang.

Cadangan migas 70 persen ada di perairan

Kenyataannya, 70% cadangan migas berada di wilayah perairan. Tantangannya sangat besar diantaranya biaya yang dibutuhkan mencapai 80 – 100 Juta USD, dan tingkat pengembalian atau IRR rendah serta periode eksplorasi pendek.

Lead time atau waktu dari discovery ke produksi pertama di Indonesia antara 8 – 26 tahun bergantung dari jenis lapangannya. Rata-rata Lead Time Indonesia sekitar 10,5 Tahun.

“Kondisi ini mempengaruhi investor untuk melakukan eksplorasi di Indonesia”, beber Nanang.

Iklim investasi migas Indonesia menduduki level terendah diantara negara asean. Maka dari itu, Kementerian ESDM menyiapkan strategi untuk meningkatkan daya tarik investasi eksplorasi migas, antara lain : meningkatkan Prospectivitas Eksplorasi Migas, dongkrak iklim investasi melalui pendekatan Fiskal, kepastian Regulasi dan stabilitas Politik dan Keamanan .

“Strategi tersebut diandalkan Indonesia agar bisa keluar dari situasi kritis untuk peningkatan investasi untuk memenuhi gap kebutuhan energy Indonesia ditengah fase transisi energy menuju era green energy”, imbuh Nanang.

Deddy Syam, Asset 4 General Manager PT Pertamina EP. Ist

Sementara itu, Deddy Syam, Asset 4 General Manager PT Pertamina EP mengutarakan, selaku salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerjasama yang mengupayakan energi fosil, Pertamina EP Asset 4 juga tetap berupaya memenuhi kebutuhan energi nasional, dengan konsisten beraktifitas eksplorasi guna menjaga ketersediaan energi hingga puluhan tahun ke depan.

“Kami di Pertamina EP tetap optimis untuk ketersediaan energi Indonesia, dan kami komitmen untuk terus melakukan eksplorasi, diantara yang sedang disiapkan sumur Eksplorasi Kasuari Emas di wilayah Kabupaten Bojonegoro”, ungkap Dedy.

Menurut Dedy, melalui kegiatan eksplorasi tersebut membuahkan hasil temuan cadangan besar sehingga bisa memperpanjang masa energi fosil di Indonesia.

“Dengan aktifitas eksplorasi, kami berharap pertamina akan sustain dan terus beroperasi memenuhi kebutuhan energi di Indonesia”, pungkas Deddy.@Rel-Licom