LENSAINDONESIA.COM: Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari 2021, Earth Hour Surabaya menggelar acara rame-rame bahas lingkungan (REBAHAN) secara daring.

Dua narasumber yang hadir yakni Edi Priyanto pegiat lingkungan dari Kampung Edukasi Sampah dan M. Arif Susanto Founder & CEO of Dus Duk Duk yang diikuti ratusan peserta dan didominasi para generasi milenial.

Saat itu, Arif menjabarkan terkait bagaimana generasi muda harus berinovasi untuk memanfaatkan sampah di sekitarnya menjadi lebih berharga dan berdaya guna.

Ia juga mengajak para millennial turut serta mengelola lingkungan dengan memanfaatkan material bekas atau sampah untuk dijadikan barang lebih berharga dan bernilai komersial lebih tinggi.

Di sisi lain, Edi memaparkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mencatat sampah nasional sepanjang tahun 2020 mencapai 67,8 Juta Ton, meningkat dari jumlah rata-rata tahunan yaitu 64 juta ton.

Sampah tersebut terdiri dari 65% sampah organik, 15% sampah plastik, 10% Kertas, 10% sampah lainnya (logam, kaca dll). Dari kesemuanya, jenis sampah plastik mencapai sekitar 9 juta ton dan diperkirakan sekitar 3,2 juta ton berupa sedotan plastik. Sedangkan rata-rata setiap orang menghasilkan sampah 0,7 Kg/orang/hari yang terdiri dari 17% Sampah Plastik.

“Cukup banyak dampak negatif atas sampah plastik, diantaranya kresek dengan zat warna hitam, jika terkena panas terdegradasi mengeluarkan zat penyebab kanker, juga saat plastik dibakar akan menghasilkan zat dan gas berbahaya bagi manusia seperti : kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf & depresi, begitu juga kandungan timbal dalam plastik jika bercampur makanan akan menyebabkan kelumpuhan” papar Edi saat dikonfirmasi, Rabu (24/02/2021).

Pengelolaan sampah dilakukan dengan 3 cara yakni Reduse, Reuse dan Recycle. Reduse untuk mengurangi jumlah timbulan sampah, reuse adalah menggunakan kembali atau menggunakan material lebih dari sekali dan recycle menggunakan material untuk membuat produk baru.

Memilah sampah sama dengan kebiasaan setiap hari membuang sampah di tempat sampah terpilah, lalu tantangannya pada saat mengolahnya, organik dikomposkan, anorganik bisa dimanfaatkan untuk kerajinan, souvenir atau dilakukan daur ulang.

“Terutama volume sampah akhir-akhir ini juga semakin meningkat sejak terjadinya Pandemi COVID-19, peningkatan volume sampah terjadi dari rumah tangga, peningkatan sampah safety gear pada sampah rumah tangga, hal itu disebabkan pemakaian masker, sarung tangan, face shield dan sejenisnya”, tandas Edi.

Selain itu, ada sampah masker bekas bercampur sampah rumah tangga lainnya. Hal ini berpotensi penularan penyakit pandemik pada petugas kebersihan disamping mencemari Lingkungan, juga mempengaruhi ekosistem makhluk hidup lain.

“Masker bekas digunting talinya, agar tidak menjerat hewan. Lalu saat membuang masker bekas, sarung tangan terpisah dari sampah lainnya. Selanjutnya ditempatkan dalam wadah/plastik tertutup agar mampu mengurangi risiko infeksi terhadap petugas kebersihan” jelasnya.

Pengelolaan sampah organik warga isoman

Untuk pengelolaan sampah organik pada warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman), seperti sisa makanan pada orang yang isoman ada beberapa langkah.

Pertama, siapkan wadah tertutup untuk menyimpan sisa makanan berupa plastik khusus yang bisa diikat, lalu sampah organik dimasukkan wadah tersebut.

Untuk mempercepat proses penguraian sampah organik tersebut dimasukkan 1-2 botol minuman probiotik atau EM4, usai isoman sisa organik tersebut tambahkan material karbon (daun kering, sekam) untuk melanjutkan proses pengomposan agar bisa dimanfaatkan menjadi kompos untuk tanam.

“Untuk sampah anorganik warga isoman, seperti plastik, botol air mineral, kertas bekas kemasan makanan, diawali proses merusaknya dengan menggunting agar tidak bisa dipakai ulang, lalu dipilah sesuai jenis barang seperti plastik, kaca dan kertas. Dan disimpan sesuai jenisnya pada satu wadah terlebih dahulu melakukan penyemprotan desinfektan. Jika isoman selesai dilakukan maka sampah anorganik bisa disalurkan ke bank sampah untuk direcycle”, pungkas Edi.@Rel-Licom