LENSAINDONESIA.COM: Di tengah krisis kebutuhan energi dan cadangan migas saat pandemi, justru Pertamina mampu bertahan seiring kebutuhan meninggi.

Hal tersebut disampaikan Nanang Abdul Manaf, Anggota Dewan Pengawas BLU Lemogas Kementrian ESDM (Staf Ahli Menteri ESDM) yang juga menyatakan jika regulasi dan fiscal terms saat ini diperbaiki untuk investasi aktivitas eksplorasi migas di Indonesia.

“Negara-negara di dunia tengah berkompetisi untuk mengundang investasi hulu migas. Banyak negara dengan lapangan produksinya sudah tua berupaya membuat iklim investasinya menarik bagi Investor,” papar Nanang, dalam keterangan tertulis yang diterima Lensaindonesia.com, Selasa (22/2/2021).

Ia menambahkan, Indonesia wajib mengadaptasi fiscal terms yang ada di global guna menarik investasi ada aktivitas eksplorasi migas atau memperkecil tingkat resiko investasinya dibanding negara lain.

“Hasil analisis kami menunjukkan perbaikan fiscal terms berdampak pada naiknya keuntungan bagi kedua belah pihak, baik kontraktor maupun pemerintah, dari sisi investasi maupun pendapatan,” tandasnya.

Saat ini, ada pergeseran aktivitas hulu migas di Indonesia dari lapangan on shore yang sudah berumur tua ke daerah lepas pantai dan laut dalam.

Tantangan eksplorasi laut dalam mengalokasikan biaya investasi tinggi yakni kisaran 80-100 juta dolar AS untuk pengeboran satu sumur, tingkat pengembalian investasi (IRR) yang rendah, dan periode eksplorasi pendek yakni sepuluh tahun.

Sedangkan untuk Lead time atau waktu dari discovery ke produksi pertama di Indonesia berlangsung antara 8 – 26 Tahun bergantung jenis lapangannya. Rata-rata Lead Time Indonesia sekitar 10,5 Tahun.

“Pasti kondisi tersebut akan mempengaruhi investor untuk melakukan eksplorasi di Indonesia, ucap Nanang.

Menurutnya, perlu ada perbedaan strategi pengelolaan lapangan baru dan lama (mature).

“Kita harus low cost, harus efisien. Agar kita masih bisa memproduksi yang bersifat marginal dan lapangan-lapangan yang keekonomiannya pas-pasan,” ungkap Nanang.

Pertamina EP punya lapangan usia 40 hingga 50 tahun

Jika Pertamina mampu rampingkan tantangan mengelola lapangan-lapangan ‘mature’, maka sudah pasti bisa bertahan.

“Sementara kita punya modal dari kegiatan katakanlah mengelola lapangan yang tua, dengan modal itu kita bisa investasi juga untuk kegiatan eksplorasi baru. Portofolionya harus berimbang, yang fokus ke produksi tapi juga ada yang fokus mencari tambahan cadangan baru dengan kegiatan eksplorasi,” kata Nanang.

Selain bertahan, Pertamina diharapkan harus terus tumbuh positif dari sisi cadangan, finansial, dan produksi.

“Pertamina EP ini punya lapangan berusia 40 tahun. Ada yang 50 tahun. Bahkan, ada lapangan yang ditemukan sebelum saya lahir. Lapangan Talang Akar ditemukan pada 1920. Lapangan Rantau ditemukan pada 1940. Tapi masih bisa survive, masih bisa kita produksikan dan tentunya punya nilai ekonomis, artinya menghasilkan profit,” pungkas Nanang.@Rel-Licom