LENSAINDONESIA.COM: Terkait perlindungan kesejahteraan para pekerja terutama pada Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Hal itu diungkapkan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Republik Indonesia Ida Fauziah dalam Seminar Bulan K3 Univesitas Nahdlatul Ulama Surabaya dengan tema Penguatan Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berbudaya K3 pada Semua Sektor Usaha.
Menurut Menaker, penerapan budaya K3 mampu menekan angka kecelakaan kerja yang akan meningkatkan produktivitas para pekerja.

“Seluruh pihak dituntut lebih serius dalam penerapan K3 di lingkungan kerja. Sebab kecelakaan kerja tak hanya menyebabkan hilangnya nyawa, kerugian materi, moril dan kerusakan lingkungan, namun juga mempengaruhi produktivitas yang pada akhirnya mempengaruhi kesejahteraan pekerja”, papar Ida Fauziah dalam keterangan tertulis yang diterima Lensaindonesia.com, Selasa (02/03/2021).

Ia menambahkan, penting bagi dunia usaha untuk melihat korelasi antara investasi pada K3 dan kinerja. Perusahaan yang meningkatkan investasi pada K3 tingkat kecelakaan akibat kerja jumlahnya menurun, sehingga kinerja dan produktivitas lebih baik. Pihaknya memberikan contoh penetapan K3 pada perusahaan-perusahaan multinasional yang menjadikan K3 sebagai nilai penting bagi perusahaan.

“Pemerintah memahami jika budaya K3 pada dasarnya merupakan strategi untuk upaya perlindungan pekerja dan keberlangsungan usaha. Sekaligus aspek penting bagi dunia usaha tetap produktif dengan tetap menjaga keselamatan dan kesehatan para pekerja,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Pelindo III Edi Priyanto menyetujui apa yang disampaikan Menaker Ida Fauziah.

Menurut Edi, perusahaan yang menjadikan K3 sebagai budaya akan lebih produktif sebab tidak mengalami hilangnya jam kerja akibat kecelakaan kerja. Dengan budaya K3 pekerja akan memahami risiko yang bisa menimbulkan bahaya sehingga lebih waspada dan bekerja dengan cara yang aman.

“Untuk menjaga keselamatan kerja yang perlu diperhatikan yakni mengenai perilaku pekerja. Bagaimana mereka memahami tujuan dalam bekerja sehingga mereka mampu memahami bahaya-bahaya yang ada, yang pada akhirnya akan membentuk kesadaran untuk bekerja dengan aman agar selamat hingga pulang ke rumah masing-masing,” tutur Edi.

Penerapan K3 di lingkungan kerja memperoleh perhatian serius setiap perusahaan. Ada beberapa hambatan serius yang seringkali menjadi penghambat kemajuan, diantaranya perusahaan terlalu fokus pada target produksi dan penghematan biaya tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan.

“Kesadaran mengenai K3 harus dimulai dari pucuk pimpinan sebuah perusahaan dahulu,” tegasnya.

Edi menambahkan, sebagai BUMN Pelindo III berkomitmen dalam penerapan budaya K3 di lingkungan kerja. Kesadaran K3 setiap tahun meningkat, diantaranya tercermin pada non kecelakaan kerja yang berakibat hilangnya nyawa maupun jam kerja berikut perolehan penghargaan zero accident di sejumlah pelabuhan yang dikelola perusahaan.

Kesadaran pada penerapan budaya K3 di lingkungan Pelindo III dibangun melalui serangkaian pendekatan, mulai dari edukasi kepada seluruh pekerja, memberikan pelatihan yang didukung teknologi informasi dengan jangkauan seluruh pekerja. Penegakan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri sesuai jenis risiko merupakan salah satu kiat sukses Pelindo III dalam penerapan K3.

“Kami juga melakukan pendekatan secara personal yang artinya pimpinan mampu memberikan contoh langsung kepada tim nya dengan menggali serangkaian permasalahan yang timbul dan sedang dihadapi khususnya dalam hal K3,” pungkas Edi.@Rel-Licom