LENSAINDONESIA.COM: Statamen Marzuki Alie yang menyebut ‘Negara Indonesia bukan Negara Pacitan’ saat mengkritik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapuk Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Ketua Umum Partai Demokrat mendapat sorotan dari kader Forum Komunikasi Putra/Putri Purnawirawan TNI/Polri (FKPPI) Jawa Timur.

Sekretaris Pengurus Daerah (PD) XIII FKPPI Jatim, Tony Hartono menilai, statment yang menganalogikan konflik partai politik dengan sentimen keaderahan sangat tidak etis. Apalagi statemen itu dilontarkan tokoh sekaliber Marzuki Alie yang merupakan mantan ketua lembaga tinggi negara, yaitu DPR RI.

“Marzuki Alie pernah pimpin lembaga tinggi negara tapi berstatement seperti anak kecil. Konflik partai tidak usah dianalogikan dengan sentimen kedaerahan, menyebut Republik Indobesia bukan negara Pacitan atau negara Jawa Timur. Ini kok jadi mempersepsikan sentimen kedaerahan?,” kata Tony kepada lensaindonesia.com, Sabtu (06/03/2021).

Menurut Tony, statement mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu merusak nilai-nilai kebangsaan, kebhinekaan dan pliralisme. “Visi pemimpin seperti ini bahaya. Merusak nilai-nilai kebinekaan, kebangsaan, pluralisme dan tidak sesuai Pancasila,” tegasnya.

Statament ‘nyeleneh’ itu dilontarkan Marzuki Alie itu saat wawancara khusus secara daring dengan tribunees.com pada Kamis 4 Maret 2021. Tepatnya sehari sebelum pelaksanaan KLB Partai Demokrat di Sumatera Utara.

Pernyataan itu disampaikan Marzuki dalam menanggapi rumor bahwa Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY selaku Ketua Umum Partai Demokrat akan maju pada Pilpres 2024 mendatang.

Marzuki mengatakan bahwa tidaklah bagus memaksakan orang yang minim pengalaman untuk menjadi pemimpin nasional.

“Saya tidak resistensi dengan Mas AHY. Bukanya saya senang ada anak muda yang akan jadi pemimpin, tapi diisi dulu (yang lebih matang seharusnya),” ujar Marzuki.

“Ini negara Republik Indonesia, bukan negara Pacitan, bukan negara Jawa Timur,” sambungnya. Terkesan cukup nyelekit.

“Jangan dipaksakan orang yang masih belum pengalaman sama sekali untuk menjadi pemimpin nasional,” tegas Marzuki Alie kemudian.

Menurutnya, seseorang yang akan memimpin suatu negara haruslah memiliki kesiapan yang mumpuni dan matang dalam berbagai aspek. Termasuk masalah siap tidaknya kejiwaan atau mental seseorang tersebut dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul.

Marzuki lantas menyindir Agus Harimurti Yudhoyono yang saat ini disebutnya tak bisa mengatasi masalah isu kudeta yang mendera Partai Demokrat. Buktinya, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY sampai harus turun tangan.

“Eggak mungkin orang yang emosionalnya masih tidak terlatih (jadi pemimpin). Ya contohnya begitu dihajar kanan kiri kan enggak punya kapasitas, akhirnya SBY turun tangan,” sindir Marzuki.@LI-13