LENSAINDONESIA.COM: Hendrik Kurniawan, kuasa hukum penerima dana salah transfer Bank BCA Ardi Pratama menyatakan bahwa telah terjadi pembunuhan karakter yang dialami kliennya.

Pembunuhan karakter yang dimaksud Hendrik adalah fitnah yang mengatakan bahwa Ardi Pratama tidak memiliki itikat baik mengembalikan uang salah transfer. Pihak yang menyebut Ardi Pratama tidak memiliki niat baik mengembalikan uang adalah perwakilan BCA, kuasa Pelapor Nur Chuzaimah dan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian.

“Mereka kompak menyebut klien kami tidak ada itikad baik. Kami berbicara sesuai data dan bukti, bukan hanya asal bicara. Faktanya ada upaya pengembalian dana meskipun dengan cara dicicil. Bukti bahwa klien kami mengembalikan uang adalah slip setoran di BCA,” terang Hendrik di Surabaya, Sabtu (06/03/2021).

Sambil menunjukkan beberapa lembar rekening koran Ardi dan sebuah kwitansi setor tunai, Hendrix mengatakan, jika Ardi sempat mencicil dana sebesar Rp 5 juta rupiah dan mengendap di rekeningnya dengan jumlah total 10 juta rupiah.

“Rekening Ardi diblokir sepihak oleh BCA. Lalu panggilan pertama dan kedua, Ardi datang penuhi panggilan BCA. Bahkan solusi yang ditawarkan untuk menyetorkan uang ke rekening itu dinisiasi oleh kepala Back Office BCA sendiri. Itu dicicil mulai 14 April 2020 lalu rekening diblokir hingga Oktober 2020,” sebutnya.

Hendrix meminta agar semua pihak menghormati proses hukum yang saat ini tengah berjalan di pengadilan.

Selain itu, Hendrix juga menyoal statemen Sudirman Sidabukke kuasa hukum pelapor yang dinilai tak paham mengenai pasal 85 UU Nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana.

“Undang-undang pasal 85 UU Nomor 3 2003 itu tidak bisa berdiri sendiri. Dalam undang-undang itu jelas diatur dalam pasal 1, 2 dan seterusnya. Termasuk ruang lingkupnya. Jadi konyol kalau misalkan pelapornya adalah personal. Kecuali bisa dibuktikan dana itu ditransfer oleh pengirim dana langsung. Sesuai pasal 78 undang-undang yang sama,” tegasnya.

Selain itu, Hendrik juga menyebutkan bahwa pelapor Nur Chuzaimah yang sudah dinyakatan pensiun pada April 2020, tapi saat membuat laporan polisi di Polrestabes Surabay sebagai karyawan BCA.

“Pelapor ini memberikan keterangan dibawah sumpah. Resumenya ada di BAP, ini maksudnya apa, pelapor sudah pensiun pada April 2020, dan Oktober 2020 dia membuat lapiran dan menyatakan bahwa dia sebagai Karyawan BCA,” tegas Hendrik.

Hendrik menyampaikan, atas perintah Undang undang, barang siapa yang memberi keterangan palsu dibawah sumpah, dapat dipudana selama 9 tahun penjara.”

“Ini Undang undang yang memerintahkan, dan pelapor memberikan keterngan di BAP dibawah sumpah, kalau statusnya pekerjaannya saja dia sudah berbohong, apa bisa keterangannya bisa dipertanggung jawabkan,” pungkasnya.@rofik